Senin, 23 April 2012

Agama Yang Benar


الدين الحق

Ad-Diinul Al-Haq




Ditulis oleh
Syeikh Abdur Rohman bin Hammad Ali Umar





Penerjemah
Muhammad Saefuddin Basri
Muhammad Mu’inudinillah Basri






بسم الله الرحمن الرحيم

Pendahuluan

Segala puji bagi Alloh Robb sekalian alam. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada utusan Alloh. Setelahnya: Inilah ajakan  kepada keselamatan, aku persembahkan kepada setiap yang berakal dalam alam semesta ini – laki-laki maupun perempuan- dengan mengharap kepada Alloh Yang Maha Tinggi dan Berkuasa, agar memberikan kebahagiaan dengannya orang yang tersesat dari jalanNya, memberikan kepadaku pahala dan setiap orang yang andil dalam menyebarkannya dengan pahala yang sebesar-besarnya, saya katakan dan Allohlah Dzat yang dimintai pertolongan :

Ketahuilah-wahai manusia yang berakal, bahwasanya tidak ada keselamatan dan kebahagiaan anda di dalam kehidupan ini, dan kehidupan akherat setelah kematian kecuali jika engkau mengenal Robb anda yang telah menciptakan anda,   mengimaniNya dan menyembahNya saja. Anda mengenal nabi anda yang diutus oleh Robb anda kepada anda dan kepada seluruh manusia. Anda beriman kepadanya dan mengikutinya. Anda mengenal Diin yang benar yang Robb anda memerintahkan anda dengannya, mengimaninya, dan mengamalkannya.

Buku “Diinu  Al-Haq” yang dihadapan anda di dalamnya ada keterangan untuk masalah masalah yang besar ini, yang wajib atas anda mengetahuinya dan mengamalkannya, dan telah saya sebutkan dalam catatan pinggir penjelasan yang diperlukan dari ungkapan dan kata-kata, sebagai tambahan keterangan, bersandarkan dalam hal itu kepada kata-kata Alloh Yang  Maha Tinggi dan hadits-hadits Rasul-Nya–semoga sholawat dan salam tercurahkan kepada beliau-karena keduanya merupakan refrensi tunggal untuk Diinu Al-Haq yang Alloh tidak akan menerima dari seseorang agama selainnya.

Aku telah tinggalkan taklid buta yang telah banyak menyesatkan kebanyakan orang, bahkan saya telah menyebutkan beberapa kelompok sesat yang mengaku bahwa ia di atas kebenaran, sementara ia jauh dari kebenaran, agar orang yang bodoh waspada terhadapnya baik dari orang yang tergabung kepadanya atau selain mereka, Alloh Pencukupku dan sebaik-baik Wakil.
         


      Dikatakan dan ditulis oleh:
Al Faqiir kepada ampunan Alloh ta’aala :


   Abdur Rohman bin Hammad Umar
      Ustadz Ilmu-ilmu keagamaan .


Fasal Satu
Mengenal Allah[[1]] Sang Pencipta yang Maha Agung.

Ketahuilah wahai manusia yang berakal, sesungguhnya Rob anda yang menciptakan anda dari mulanya tidak ada dan telah mendidik anda dengan nikmat-Nya adalah (Allah) Rob semesta alam. Dan orang-orang berakal mereka beriman pada Allah Yang Maha tinggi[[2]], mereka tidak melihat-Nya dengan mata kepala mereka, namun mereka telah melihat bukti-bukti yang menunjukkan akan keberadaan-Nya, dan bahwa Dia adalah Pencipta yang Mengurus semua yang ada, mereka mengenalnya dengan bukti-bukti itu. Diantara bukti-bukti itu adalah :

Bukti yang pertama :
Keberadaan manusia dan kehidupan: dia adalah sesuatu yang baru yang memiliki permulaan dan akhir, membutuhkan pada yang lain. Sedangkan sesuatu yang baru dan butuh pada yang lain ia adalah makhluq, dan makluq itu harus ada yang menciptakanya, dan Pencipta (Khaliq) yang Maha Agung ini adalah ( Allah ).
Dan Allah adalah yang telah mengabarkan akan Dzat-Nya  yang Suci sendiri, bahwasanya Dialah Pencipta ( Khaliq ), Yang Mengurus semua yang ada, sedangkan kabar ini datangnya dari Allah Ta’ala dalam kitab-kitab-Nya, yang telah diturunkan pada para Rasul-Nya.

Dan Rasulullah telah menyampaikan Firman-Nya pada manusia, mengajak mereka untuk beriman pada-Nya dan hanya beribadah pada-Nya.
Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang Agung:

}إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ{ (54) سورة الأعراف

Sesungguhnya Rob kalian semua adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam masa enam hari, kemudian Dia bersemayam diatas Arsy.Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakannya pula_ matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk pada perintah-Nya, Ingatlah menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah, Maha suci Allah Rob semesta alam “. (QS, 7;54)

Makna secara umum dari ayat yang mulia ini : “ Allah mengabarkan pada seluruh manusia bahwa Dia adalah Rob mereka yang telah menciptakan mereka dan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari[1] dan mengabarkan bahwa Dia Bersemayam diatas Arsy-Nya.[2]
Dan Arsy itu diatas langit, sedangkan arsy itu merupakan makluq yang tertinggi dan terluas, Dan Allah berada diatas Arsy ini, Allah bersama seluruh makhluqnya dengan Ilmu-Nya, Pendengaran-Nya dan Penglihatan-Nya.
Tidak ada sesuatu urusan makhluqpun yang tersembunyi dari-Nya, dan Allah yang Maha Perkasa mengabarkan bahwa Dia menjadikan malam menutup siang dengan kegelapannya, kemudian siang mengikutinya dengan cepat, Diapun mengabarkan bahwa Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang, semuanya tunduk dan berjalan diatas peredarannya dengan perintah-Nya, dan Allah mengabarkan juga bahwa hanya bagi-Nya lah urusan penciptaan dan pengaturan alam semesta ini, Dia  yang Maha Sempurna Dzat dan sifat-sifat-Nya, yang memberikan kebaikan yang banyak dan terus-menerus, dan Dialah Rob alam semesta yang menciptakan mereka dan mendidiknya dengan nikmat-Nya.

     Allah Ta’ala Berfirman :

}وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ {(37) سورة فصلت

“ Dan sebagaian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan . Janganlah bersujud pada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan,tapi bersujudlah pada Allah, yang menciptakannya,  jika kamu hanya kepada-Nya berserah diri “.  (QS, 41;37)



Makna ayat yang mulia secara umum.

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa diantara tanda yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya adalah : malam dan siang, matahari dan bulan dan Allah melarang untuk sujud pada matahari, dan bulan karena keduanya adalah makhluq sebagaimana makhluq yang lainnya, makhluq itu tidak layak untuk disembah, sedangkan sujud termasuk jenis ibadah. Dan pada ayat ini Allah memerintahkan pada manusia, sebagaimana memerintahkan mereka  selainnya, supaya mereka hanya bersujud pada-Nya saja, karena Dialah Pencipta, Pengatur yang berhak diibadahi.

Bukti yang kedua.

Bahwa dia telah menciptakan laki-laki dan perempuan: keberadaan perempuan dan lelaki adalah sebagai bukti akan adanya Allah.

Bukti yang ketiga.
Perbedaan bahasa dan warna kulit: tidak pernah didapati dua orang yang suaranya satu atau warna kulitnya sama, tapi pasti ada perbedaannya antara keduanya.

Bukti yang keempat.
Perbedaan nasib: Yang ini kaya, yang ini miskin, yang ini pemimpin dan yang itu yang dipimpin (rakyat) padahal mereka semuanya sama-sama memiliki akal, pikiran dan ilmu dan menginginkan apa apa yang tidak bisa dicapai seperti kaya, kemuliaan, istri yang cantik, namun tidak ada seorangpun yang mampu mencapai kecuali yang di taqdirkan Allah untuknya, hal itu karena hikmah yang besar yang telah dikehendaki Allah Swt. Dan semua ini adalah ujian bagi manusia satu sama lain dan kebutuhan manusia satu sama yang lain sehingga tidak hilang kemaslahatan mereka semua.
Dan bagi yang tidak ditaqdirkan oleh Allah bernasib baik didunia, Allah mengabarkan bahwa Allah memberikan padanya nasib baiknya sebuah tambahan didalam kenikmatannya di sorga jika ia mati dalam kondisi iman pada Allah, Allah telah memberi orang fakir suatu keistemewaan yang bisa dinikmati jiwa dan kesehatan, yang kebanyakan tidak didapatkan pada orang-orang  yang kaya dan ini merupakan kebijaksanaan dan keadilan Allah .

Bukti kelima.
Tidur dan mimpi benar yang Allah tampakkan didalamnya kepada orang yang tidur suatu perkara ghaib sebagai berita gembira atau peringatan.

Bukti keenam.
Ruh dimana tidak ada yang mengenal hakekat ruh selain Allah saja.

Bukti ketujuh.
Manusia berikut yang ada di tubuhnya berupa panca indra, urat saraf, otak, alat pencernaan dan selainnya.

Bukti kedalapan.
Allah menurunkan hujan pada tanah mati lalu muncullah tetumbuhan serta pepohonan beraneka ragam bentuk, corak, manfaat dan rasanya. Ini merupakan sedikit diantara ratusan bukti yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al Qur’an  dan yang Dia khabarkan bahwa semua itu merupakan bukti kuat akan eksistensi Allah dan bahwa Dialah Pencipta sekaligus Pengatur seluruh makhluk yang ada.

 Bukti kesembilan.
Fitrah yang Allah ciptakan pada manusia mengakui akan eksistensi Allah sebagai Pencipta dan Pengaturnya. Siapa yang mengingkari hal itu berarti dia hanya mencelakakan dirinya sendiri. Orang atheis misalnya, hidup di dunia ini dalam keadaan celaka sedang tempat kembalinya kelak setelah kematian adalah neraka sebagai balasan dia mendustakan Robbnya yang telah menciptakan dirinya dari awalnya tidak ada dan memeliharanya dengan berbagai macam nikmat. Kecuali kalau dia mau bertaubat kepada Allah dan beriman kepada-Nya, agama serta Rasul-Nya.


Bukti kesepuluh.
Berkah, yaitu semakin bertambah banyaknya pada sebagian makhluk seperti kambing. Sedang kebalikan berkah adalah gagal sebagaimana pada binatang anjing dan kucing. 

Diantara sifat Allah Ta’ala adalah Dia Maha Awal tanpa permulaan, Maha Hidup terus menerus, tidak akan mati maupun usai, Maha Kaya sekaligus Mengurus sendiri, tidak membutuhkan yang lain serta Maha Esa tanpa sekutu. Allah Ta’ala berfirman:

}بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1)اللَّهُ الصَّمَد(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ(4){
 “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Al Ikhlas:1- 4)

Makna ayat:
Tatkala orang-orang kafir bertanya kepada Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam tentang sifat Allah maka Allah menurunkan surat ini seraya memerintahkan kepada beliau untuk menyatakan kepada mereka: Allah itu Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah itu Dia-lah Yang Maha Hidup Abadi lagi Maha Mengatur. Bagi-Nya semata kekuasaan mutlak atas alam semesta, manusia dan segala sesuatu. Hanya kepada-Nya semata seluruh manusia wajib kembali dalam rangka memenuhi segala kebutuhan mereka.
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak benar Dia mempunyai putra atau putri, ayah atau ibu. Bahkan Dia sangat menafikan itu semua dari diri-Nya dalam surat ini demikian pula pada surat yang lain. Sebab berketurunan dan beranak pinak merupakan sifat makhluk. Allah telah membantah ucapan kaum nasrani: “Al Masih itu anak Allah” dan ucapan kaum yahudi: “Uzair itu anak Allah. Serta ucapan yang lain yang menyatakan: “Malaikat putri Allah” dan Dia mengecam keras ucapan bathil ini.
Allah mengabarkan bahwa Dia menciptakan Al masih Isa u dari seorang ibu tanpa ayah dengan kuasa-Nya sebagaimana Dia menciptakan Adam moyang manusia dari tanah. Sebagaimana pula Dia menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam lalu tiba-tiba Adam melihat Hawa telah ada di sampingnya. Kemudian menciptakan anak keturunan Adam dari air laki-laki dan perempuan. Allah telah menciptakan segala sesuatu pada permulaan yang semula tidak ada dan menjadikan setelah itu sebagai sunnah dan aturan bagi semua makhluk-Nya yang tak seorangpun mampu merubahnya. Dan jika Allah menghendaki merubah aturan ini maka Dia rubah sesuai kehendak-Nya sebagaimana Dia mewujudkan Isa ‘alaihissalam dari seorang ibu tanpa bapak. Sebagaimana Dia menjadikan Isa mampu berbicara di buaian sebagaimana pula Dia merubah tongkat Musa ‘alaihis salam  menjadi seekor ular yang bergerak-gerak. Tatkala Musa memukulkan tongkat tersebut ke laut maka lautpun terbelah dan menjadi sebuah jalan yang bisa dilewati Musa beserta kaumnya. Sebagaimana pula Allah mampu membelah bulan untuk penutup para Rasul, Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam, menjadikan pohon bisa mengucapkan salam kepada beliau ketika melewatinya. Dia menjadikan hewan bersaksi atas kerasulan beliau di hadapan beliau dengan suara yang bisa didengar manusia. Hewan itu berkata: Aku bersaksi engkau utusan Allah. Beliau pernah diperjalankan di atas Buraq dari masjid Haram ke masjid Al Aqsa. Kemudian beliau dimi’rojkan ke langit ditemani malaikat Jibril hingga sampai di atas langit. Lalu Allah ta’aala berbicara kepada beliau dan mewajibkan sholat atas beliau. Kemudian kembali ke masjid Al Haram di bumi. Beliau melihat di perjalanan para penghuni langit. Semua itu terjadi hanya pada tempo semalam sebelum terbit fajar. Kisah Isra’ Mi’raj ini masyhur baik di Al Qur’an, hadits maupun buku-buku sejarah.

Diantara sifat Allah ta’ala: Mendengar, melihat, ilmu, qudrah (kuasa), iradah (kehendak). Dia mendengar dan melihat segala sesuatu. Tidak ada hijab apapun yang menghalang-halangi pendengaran dan penglihatan-Nya.
Allah mengetahui apa yang ada di dalam rahim dan apa yang tersembunyi dalam dada, apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Dialah yang Maha Kuasa lagi Maha berkehendak yang jika menghendaki sesuatu tinggal berkata: “Kun” (Jadilah) maka terjadi.

Diantara sifat Allah Ta’ala yang Dia sifatkan untuk diri-Nya: Berbicara sesuai apa yang dikehendaki-Nya dan kapan saja Dia berkehendak. Allah telah berbicara kepada Musa ‘alaihis salam berbicara kepada Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam dan Al Qur’an merupakan kalam Allah baik huruf maupun maknanya yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam. Jadi ia merupakan satu sifat diantara sifat-sifat-Nya. Bukan makhluk sebagaimana yang dikatakan kaum Mu’tazilah yang sesat.

Diantara sifat Allah Ta’ala yang Dia sifatkan bagi diri-Nya dan disifatkan pula oleh Rasul-Nya: wajah, dua tangan, istiwa’ (bersemayam), turun, ridho dan marah. Allah ridho terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin dan murka terhadap orang-orang kafir serta orang-orang yang mengerjakan hal-hal yang mengakibatkan murka-Nya. Ridho dan murka-Nya sebagaimana sifat-sifat yang lain, tidak serupa dengan sifat makhluk, tidak boleh dita’wilkan maupun didiskripsikan.
Dinyatakan dalam Al Qur’an dan As Sunnah bahwa orang-orang mukmin kelak melihat Allah ta’ala dengan mata kepala di padang mahsyar dan di surga. Sifat-sifat Allah ta’ala disebutkan secara rinci dalam Al Qur’an dan hadits-hadits Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam maka hendaknya anda merujuk kepadanya.

Sesuatu Yang Karenanya Allah Ciptakan
 Manusia dan Jin

Jika anda telah mengenal –wahai orang berakal- bahwa  Robbmulah yang telah menciptkanmu. Maka ketahuilah bahwa Allah tidaklah menciptakan anda sia-sia begitu saja. Akan tetapi Dia menciptakan anda supaya anda beribadah kepada-Nya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُون(57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ[ (58) الذاريات

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (Adz Dzariat : 56-58)

Makna Ayat Secara Umum:
Allah ta’ala memberitahukan pada ayat pertama bahwa Dia menciptakan jin dan manusia supaya mereka menyembah-Nya semata. Lalu pada ayat kedua dan ketiga Allah memberitahukan bahwa Dia Maha Kaya tidak membutuhkan hamba-Nya. Tidak menghendaki sedikitpun rizki maupun makanan dari mereka. Karena Dia Maha Pemberi rizki lagi Maha Kuat dimana tidak ada rizki bagi manusia maupun selainnya melainkan berasal dari-Nya. Dialah yang menurunkan hujan dan mengeluarkan rizki dari bumi.
Adapun makhluk lain tak berakal yang terdapat di bumi, maka Allah Ta’ala  memberitahukan bahwa Dia menciptakan mereka demi manusia supaya manusia menggunakannya sebagai sarana taat kepada-Nya dan mengolahnya sesuai syariat Allah. Jadi setiap makhluk, setiap gerakan maupun diam di alam semesta ini, maka Allah lah yang mengadakannya karena suatu himah yang Dia terangkan dalam Al Qur’an serta dikenal oleh para ulama melalui syariat Allah. Masing-masing menurut kadar ilmunya. Bahkan sampai perbedaan umur, rizki, berbagai peristiwa dan musibah semua itu berlaku atas izin Allah untuk menguji hamba-Nya yang berakal. Siapa yang ridho dengan taqdir Allah, berserah diri disertai kesungguhan dalam melakukan amal yang diridhoi-Nya maka ia mendapatkan ridho Allah serta kebagiaan di dunia dan akhirat setelah mati. Sedang siapa yang tidak ridho dengan ketentuan Allah, tidak mau berserah diri dan tidak menaati-Nya maka ia mendapatkan murka Allah dan celaka dunia dan akhirat. Kita memohon kepada Allah akan ridho-Nya dan berlindung dari murka-Nya.

Kebangkitan Setelah Mati, Hisab, Pembalasan Amal Perbuatan, Surga dan Neraka

Jika anda telah mengenal –wahai orang yang berakal- bahwa Allah menciptakan anda supaya anda beribadah kepada-Nya maka ketahuilah bahwa Allah memberitahukan dalam seluruh kitab-Nya yang Dia turunkan kepada para Rasul-Nya bahwa Dia akan membangkitkan anda hidup-hidup setelah mati. Lalu mengganjar anda atas amal perbuatan anda di akhirat setelah mati. Hal itu dikarenakan lewat kematian manusia berpindah dari negeri amal lagi fana’ –yakni kehidupan ini- menuju negeri pembalasan nan abadi, yaitu kehidupan setelah mati. Jika masa yang Allah tentukan untuk manusia hidup telah sempurna maka Allah menitahkan malaikat maut untuk mencabut ruhnya dari jasadnya lalu iapun mati setelah sebelumnya merasakan pahitnya kematian sebelum keluar ruhnya dari jasadnya.
Adapun ruh, maka Allah menjadikannya berada di negeri penuh kenikmatan (surga) jika ruh tersebut beriman dan taat kepada Allah. Dan jika ruh itu kafir kepada Allah, mendustakan hari kebangkitan dan pembalasan setelah mati, maka Allah menjadikan ruh tersebut  berada di negeri azab (neraka). Sampai tiba masa akhir dunia yang dijanjikan lalu terjadilah Kiamat. Semua makhluk yang ada mati dan tinggallah Allah semata yang ada. Kemudian Allah membangkitkan seluruh makhluk –sampai hewan- dan dikembalikan semua ruh kepada jasadnya masing-masing. Setelah Allah mengembalikan jasad dengan sempurna sebagaimana Dia ciptakan awal mula. Hal itu dalam rangka Allah menghisab manusia lalu memberikan balasan kepada mereka atas amal perbuatannya, baik laki maupun perempuan, pemimpin maupun rakyat, yang kaya dan yang miskin tanpa menzalimi seorangpun. Dia mengqishash (hukum balas) bagi yang terzalimi terhadap yang mendzalimi. Sampai-sampai hewan dibalaskan dari yang menzaliminya. Dia balaskan bagi sebagian terhadap sebagian yang lain kemudian berfirman kepada hewan: “Jadilah kamu tanah” karena hewan tidak masuk surga maupun neraka.
Allah memberikan balasan bagi manusia dan jin masing-masing sesuai amal perbuatan-Nya. Lalu Dia memasukkan orang-orang mukmin yang menaati-Nya dan mengikuti Rasul-Nya ke dalam surga sekalipun mereka itu orang paling fakir. Dan memasukkan orang-orang kafir lagi mendustakan ke dalam nereka sekalipun mereka itu orang yang paling kaya dan paling hebat di dunia. Allah ta’ala berfirman:

]إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ[ (الحجرات:13)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (Al Hujurat : 13)
Surga adalah tempat yang penuh kenikmatan. Didalamnya terdapat berbagai macam kenikmatan yang tak seorangpun mampu menggambarkannya. Di dalam surga terdapat seratus derajat. Setiap derajat mempunyai penghuni menurut kadar keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah. Derajat terendah di surga ialah penghuninya diberi kenikmatan seperti kenikmatan raja termewah di dunia 70 kali lipat.
Neraka –semoga Allah melindungi kita darinya- ialah tempat penuh azab di akhirat setelah mati. Di dalamnya terdapat berbagai macam siksaan dan hukuman yang bisa membangkitkan ketakutan hebat di hati  dan mata menangis jika disebutkan.
Sekiranya kematian didapati di kampung akhirat niscaya matilah penghuni neraka karena sekedar melihatnya. Akan tetapi kematian itu hanyalah sekali saja sebagai sarana manusia pindah dari kehidupan dunia menuju akhirat. Di dalam Al Qur’an disebutkan secara mendetail tentang kematian, kebangkitan dan hisab (penghitungan amal  perbuatan), pembalasan, surga dan neraka serta semua yang kami sebutkan tadi.    
Dalil-dalil adanya kebangkitan setelah mati, hisab dan pembalasan teramat banyak. Allah ta’ala berfirman di dalam Al Qur’an :
]مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى[(طـه:55)
“dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan  kalian dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” (Toha : 55)

Allah ta’ala berfirman :

]وَضَرَبَ لَنَا مَثَلاً وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ) (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ[ (79) يّـس
“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiaannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Robb yang menciptakannya kali pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk” (Yasin : 78-79)



  Allah ta’ala berfirman :
                            
]زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ[ (التغابن:7)
“Orang-orang yang kafir menyangka, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi Robbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (At Taghabun : 7).

Makna  Ayat Secara Umum:
Pada ayat pertama Allah ta’aala memberitakan bahwa Dia menciptakan manusia mulanya dari tanah. Yaitu ketika menciptakan moyang mereka, Adam dari tanah. Kemudian Dia memberitakan akan mengembalikan manusia ke dalam tanah setelah mati yakni di dalam kubur sebagai penghormatan bagi mereka. Lalu Dia memberitakan akan mengeluarkan mereka pada waktu yang lain sehingga manusia keluar hidup-hidup dari kuburnya dari manusia pertama hingga yang paling akhir. Kemudian Allah menghitung amal perbuatan mereka dan memberinya balasan.
Pada ayat kedua Allah membantah orang kafir yang mendustakan adanya kebangkitan setelah mati dimana menganggap mustahil tulang belulang bisa hidup kembali setelah hancur luluh. Allah membantah orang kafir tersebut dengan memberitakan bahwa Dia akan menghidupkan tulang belulang itu karena Dialah yang telah menciptakannya kali pertama dari sebelumnya tidak ada.
Pada ayat ketiga Allah membantah orang-orang kafir yang mendustakan adanya kebangkitan setelah mati bahwa mereka telah salah prasangka. Dia memerintahkan Rasul-Nya supaya bersumpah kepada mereka dengan nama Allah untuk menunjukkan keseriusan bahwa Allah pasti akan membangkitkan mereka dan akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat lalu memberi balasan kepada mereka atas perbuatan tersebut. Dan semua itu amatlah mudah bagi Allah.
Pada ayat lain Allah memberitakan bahwa apabila Dia telah membangkitkan orang-orang yang mendustakan adanya kebangkitan setelah mati dan adanya neraka, Dia akan siksa mereka di neraka Jahanam seraya dikatakan kepada mereka:

] ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ[ (السجدة:20)
“Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya” (Sajdah : 20)

Dicatatnya Amal Perbuatan dan Perkataan Manusia.

Allah ta’aala telah memberitakan bahwa Dia mengetahui apa yang akan diucapkan dan diperbuat setiap manusia baik maupun buruk, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Allah mengabarkan bahwa Dia telah mencatat semua itu di Lauh Mahfudz di sisi-Nya sebelum diciptakan-Nya langit dan bumi, manusia serta lainnya. Allah mengabarkan bahwa selain itu Dia juga telah menugaskan kepada setiap manusia dua malaikat satunya berada di sebelah kanan guna menulis amal perbuatan baik sedang lainnya di sebelah kiri guna menulis amal perbuatan buruk. Tidak ada sedikitpun yang terlewat. Allah ta’aala mengabarkan bahwa di hari penghitungan kelak setiap manusia akan dibagikan buku yang tercatat didalamnya  semua perkataan dan amal perbuatannya. Lalu ia membacanya tanpa mengingkarinya sedikitpun. Siapa yang coba-coba mengingkari maka Alllah perintahkan pendengaran, penglihatan, tangan, kaki dan kulitnya untuk berbicara tentang seluruh apa yang dia perbuat.
Di dalam Al Qur’an hal itu dijelaskan secara mendetail. Allah ta’ala berfirman :

]مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ[ (قّ:18)
 “Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaff : 18)
   Allah Ta’ala berfirman :

]وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَاماً كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ[ (12)
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawaasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Infithar : 10-12)
Penjabaran Ayat: Allah subhaanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Dia menugaskan untuk setiap manusia dua malaikat. Satu berada disebelah kanannya yang menulis amal perbuatan baiknya, sedang yang lain berada di sebelah kirinya yang menulis amal perbuatan buruknya. Allah mengabarkan dalam dua ayat terakhir bahwa Dia menugaskan untuk manusia malaikat-malaikat mulia yang menulis seluruh perbuatan mereka dan mengabarkan bahwa Dia menciptakan bagi mereka kemampuan mengetahui seluruh perbuatan manusia berikut menulisnya sebagaimana yang telah diketahui dan ditulis-Nya di Lauh Mahfudz sebelum diciptakan-Nya mereka.

Syahadat (persaksian) :
Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Alah. Aku bersaksi bahwa surga itu benar, neraka itu benar. Kiamat itu akan tiba tiada keraguan lagi. Allah akan membangkitkan semua yang ada di kubur untuk dihisab amal perbuatannya dan diberi balasan. Semua yang dikhabarkan Allah dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya adalah benar. Saya mengajak anda wahai orang yang berakal untuk beriman kepada persaksian ini, menegaskannya terang-terangan dan mengamalkan maknanya. Inilah jalan keselamatan. 


Pasal Kedua
Mengenal Rasul

Wahai orang yang berakal, jika anda telah mengenal bahwa Allah, Dialah Robbmu yang telah menciptakanmu dan Dia akan membangkitkanmu untuk memberikan kepadamu balasan atas amal perbuatanmu. Maka ketahuilah bahwa Allah telah mengutus kepadamu dan kepada seluruh manusia seorang Rasul yang memerintahkan kepadamu untuk taat dan mengikutinya. Dia mengabarkan bahwa jalan mengenal ibadah kepada-Nya secara benar hanyalah dengan mengikuti Rasul ini dan beribadah kepada Allah dengan syariat-Nya yang telah diembankan-Nya kepada Rasul tersebut.
Rasul mulia yang wajib bagi seluruh manusia mengimani dan mengikutinya ini adalah penutup para rasul sekaligus utusan Allah bagi seluruh umat manusia, yaitu Muhammad seorang nabi yang tidak membaca dan menulis yang telah diberitakan sebagai kabar gembira oleh Musa dan Isa lebih dari 40 tempat di Taurat dan Injil yang dibaca orang yahudi dan nasrani sebelum mereka mempermainkan dan merubah kedua kitab ini.
Nabi mulia yang Allah jadikan sebagai penutup para rasul dan diutus-Nya bagi semua umat manusia ini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib Al Hasyimy Al Qurasyi, seorang laki-laki paling mulia dan paling jujur di kabilah termulia di muka bumi yang merupakan keturunan Nabiyullah Ismail bin nabiyullah Ibrahim. Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam terlahirkan di Mekah pada tahun 570 Masehi. Pada malam kelahirannya dan pada saat-saat keluarnya dari rahim ibunya, alam semesta tersinari oleh cahaya agung yang membuat manusia terdecak kagum dan ditulis di buku-buku sejarah, berhala-berhala Quraisy yang mereka sembah di Ka’bah daerah Mekkah berjungkiran, singgasana Kisra raja Parsi goncang, sepuluh lebih dari kebesarannya berjatuhan dan api Parsi yang mereka sembah tiba-tiba padam. Padalah belum pernah api itu padam dua ribu tahun sebelumnya.
Semua ini merupakan pertanda dari Allah ta’ala bagi penduduk bumi akan lahirnya penutup para rasul yang akan menghancurkan semua berhala yang disembah selain Allah dan akan menyeru bangsa Parsi dan Rumawi untuk menyembah Allah semata dan masuk ke dalam agamanya yang benar. Apabila mereka menolak akan ia perangi bersama para pangikutnya. Lalu Allah memenangkannya atas mereka dan ia sebarkan agama-Nya sebagai cahaya-Nya di bumi. Dan inilah yang terjadi sebenarnya setelah Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam.    
Allah telah mengaruniakan bagi penutup rasul-Nya Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam beberapa keistimewaan dari saudara-saudaranya para rasul sebelumnya. Diantaranya :

Pertama; dia sebagai penutup para rasul sehingga tidak ada lagi seorang rasulpun setelahnya.

Kedua; keumuman risalahnya untuk semua umat manusia. Maka seluruh manusia adalah umat Muhammad. Siapa yang menaati dan mengikutinya masuk surga dan siapa yang durhaka kepadanya masuk neraka. Sampai orang yahudi dan nasrani turut diwajibkan mengikutinya. Siapa yang tidak mau mengikuti dan beriman kepadanya maka ia telah kafir kepada Musa, Isa dan seluruh nabi. Sedang Musa, Isa dan seluruh para nabi berlepas diri dari setiap orang yang tak mau mengikuti Muhammad u. Karena Allah memerintahkan mereka untuk menyampaikannya sebagai kabar gembira dan menyeru umatnya untuk mengikutinya jika telah Allah bangkitkan. Dan dikarenakan  agama yang Allah mengutus Muhammad dengannya adalah juga agama yang Allah mengutus dengannya para nabi. Allah jadikan kesempurnaan dan kemudahan agama pada masa rasul mulia penutup para rasul ini. Sehingga tidak boleh seorangpun setelah diutusnya Muhammad memeluk agama selain Islam yang Allah mengutus Muhammad dengannya. Karena ia merupakan agama sempurna yang jadikan penghapus seluruh agama dan dikarenakan ia sebagai agama hak yang akan terus terjaga.
Adapun yahudi dan nasrani merupakan agama yang telah diselewengkan tidak sebagaimana lagi saat Allah turunkan. Jadi setiap muslim pengikut Muhammad dianggap pula sebagai pengikut Musa, Isa dan seluruh para nabi. Dan setiap yang keluar dari Islam dianggap telah kafir terhadap Musa, Isa dan seluruh para nabi. Sekalipun ia mengaku sebagai pengikut Musa atau Isa ! Oleh sebab ini sejumlah ulama yahudi dan pendeta nasrani yang mau berfikir dan bersikap obyektif segera mengimani Muhammad e dan masuk Islam.

Mukjizat-Mukjizat Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam :
Para ulama sejarah Rasul Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam telah menghitung mukjizat-mukjizat beliau yang membuktikan kebenaran risalahnya mencapai lebih seribu mukjizat. Diantaranya :
1-Tanda kenabian yang ditumbuhkan oleh Allah di antara kedua pundaknya, yaitu “Muhammad Rasulullah” dalam bentuk…
2-Awan menaunginya ketika berjalan di panas terik matahari musim panas.
3-Batu bertasbih di tangannya dan pohon mengucapkan salam kepadanya.
4-Dia mengabarkan perkara-perkara ghaib yang akan terjadi di akhir zaman. Dan sekarang telah terjadi sedikit demi sedikit sesuai yang dia khabarkan.
Perkara-perkara ghaib yang terjadi sepeninggalnya penutup para rasul Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam hingga hari akhir nanti serta Allah perlihatkan dan khabarkan kepadanya ini tertulis di kitab-kitab hadits, kitab-kitab tentang tanda-tanda hari Kiamat. Seperti; kitab “An Nihayah” karangan Ibnu Katsir, kitab “Al Akhbar Al Musya’ah fi Asyrothi Saa’ah” (Berita-berita yang tersebar mengenai tanda-tanda Kiamat) serta “Abwaabul Fitan wal Malahim” di kitab-kitab hadits.
Mukjizat-mukjizat ini serupa dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya. Hanya saja Allah mengistimewakan beliau dengan mukjizat yang bisa diterima akal dan akan tetap  langgeng sepanjang masa hingga usainya dunia, yang belum pernah Allah berikan kepada nabi selainnya. Mukjizat tersebut adalah Al Qur’an yang maha agung (kalam Allah), yang Allah telah jamin akan menjaganya. Sehingga tidak ada satu tanganpun yang coba-coba hendak merubahnya dapat menyentuhnya. Sekiranya seseorang berusaha merubah satu hurufpun dari Al Qur’an pasti terbongkar. Inilah ratusan juta cetakan Al Qur’an ada di tangan kaum muslimin tidak ada perbedaan satu dengan yang lain sekalipun satu huruf. Adapun cetakan Taurat dan Injil beraneka ragam dan satu sama lain saling berbeda. Karena kaum yahudi dan nasrani telah mempermainkan dan merubah-rubah keduanya ketika Allah menugaskan mereka untuk menjaganya. Sedangkan Al Qur’an ini Allah tidak menyerahkan kepada seorangpun selain-Nya untuk menjaganya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman :
}إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ{ (الحجر:9)
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya” (Al Hijr : 9)

Bukti Rasional dan Dalil dari Kalam Allah Ta’ala Bahwa Al Qur’an Kalam Allah dan Muhammad Utusan Allah
       
Diantara bukti-bukti rasio yang membuktikan Al Qur’an kalam Allah ta’ala dan Muhammad utusan Allah; bahwa Allah menantang kaum kafir Quraisy ketika mereka mendustakan Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana orang-orang yang mendustakan nabi-nabi yang lain pada umat-umat dahulu. Mereka menyatakan : “Al Qur’an bukan kalam Allah”. Maka Allah menantang mereka supaya membuat kitab serupa Al Qur’an. Mereka tidak sanggup kendati Al Qur’an dengan bahasa mereka, kendati mereka manusia paling fasih, dan kendati diantara mereka terdapat juru pidato, ahli-ahli bahasa, para penyair jagoan. Kemudian Allah menantang mereka untuk membuat sepuluh surat buatan saja semisal Al Qur’an, merekapun tidak mampu. Kemudian Allah menantang mereka untuk membuat satu surat saja yang serupa Al Qur’an, mereka pun tak sanggup pula. Kemudian Allah mengungkapkan ketidaksanggupan mereka.
   Seluruh umat jin dan manusia tidak akan sanggup membuat yang serupa Al Qur’an sekalipun mereka saling bahu membahu. Allah ta’ala berfirman ::

}قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْأِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيراً{(الاسراء:88)
 “Katakanlah sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian lain” (Al Isra’ : 88)
   Sekiranya Al Qur’an berasal dari ucapan Muhammad atau manusia lain, pastilah para ahli bahasa yang lain mampu membuat yang serupa Al Qur’an. Akan tetapi Al Qur’an itu kalam Allah ta’ala. Sedang keutamaan dan ketinggian kalam Allah atas perkataan manusia sebagaimana keutamaan Allah atas manusia.
   Disaat tidak ada satupun bandingan untuk Allah maka tidak ada yang sebanding dengan kalam-Nya. Berdasarkan hal ini jelaslah bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah ta’ala dan Muhammad utusan Allah. Karena yang mampu mengemban kalam Allah hanyalah utusan dari sisi-Nya. Allah ta’ala berfirman :

}مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً{ (الأحزاب:40)
 “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al Ahzab : 40)

Allah ta’ala berfirman :

}وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ{(سـبأ:28)
    “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Saba’ : 28)

   Allah ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an :

}وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ{(الانبياء:107)
 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’ : 107)

Makna Ayat Secara Umum :
Pada ayat pertama, Allah ta’ala mengabarkan bahwa Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai utusan-Nya kepada seluruh manusia sekaligus penutup nabi-nabi-Nya sehingga tidak ada lagi nabi sepeninggalnya. Allah mengabarkan bahwa Dia memilih Muhammad untuk mengemban risalah-Nya dan menjadi penutup bagi rasul-rasul-Nya. Karena Allah mengetahui bahwa Muhammad lah yang paling layak di antara manusia untuk mengemban tugas itu.
Pada ayat lain Allah ta’ala mengabarkan bahwa Dia mengutus rasul-Nya, Muhammad kepada seluruh lapisan manusia, baik kulit putih atau kulit hitam, Arab maupun non Arab. Dia mengabarkan bahwa mayoritas manusia tidak mengetahui kebenaran. Oleh karenanya mereka sesat dan kafir karena tidak mengikuti Muhammad.
Pada ayat ketiga Allah berbicara kepada Rasul-Nya Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam. Allah mengabarkan kepada beliau bahwa Dia mengutusnya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Jadi beliaulah sebagai manifestasi rahmat Allah yang dikaruniakan-Nya kepada manusia berkat kemurahan-Nya. Siapa mengimani dan mengikutinya  berarti ia telah menerima rahmat Allah dan baginya surga. Sedang siapa yang tidak mengimani Muhammad dan tidak mau mengikutinya, berarti ia telah menolak rahmat Allah dan berhak mendapat siksa pedih di neraka.

Panggilan Untuk Beriman Kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam
Oleh karenanya, kami menyeru anda –wahai orang berakal- untuk beriman kepada Allah sebagai Robb dan Rasul-Nya Muhammad sebagai utusan-Nya. Kami menyeru anda untuk mengikutinya dan berbuat menurut syari’atnya yang Allah embankan kepada Muhammad. Itulah agama Islam yang sumbernya adalah Al Qur’an yang agung (kalam Allah) serta hadits-hadits penutup para rasul, Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan darinya. Sebab Allah telah menjaganya dari kesalahan sehingga tidaklah ia memerintah melainkan dengan titah Allah dan tidaklah melarang melainkan apa yang Allah larang. Untuk itu katakanlah dari lubuk hatimu : “Aku beriman bahwa hanya Allah Robb dan sesembahanku” dan katakan pula : “Aku beriman bahwa Muhammad utusan Allah dan aku akan mengikutinya”. Sebab hanya dengan itulah anda bisa selamat. Semoga Allah menunjukkan saya dan anda kepada kebahagiaan dan keselamatan. Amin

Pasal Ketiga
Mengenal Diinul Haq (Islam)

Jika anda telah mengenal bahwa Allah ta’ala Dialah Robbmu yang telah menciptakan dan memberimu rizki. Dialah satu-satu-Nya sesembahan yang hak yang tiada sekutu bagi-Nya dimana wajib bagi anda beribadah kepada-Nya semata. Dan anda mengenal bahwa Muhammad adalah utusan Allah kepada anda serta kepada seluruh manusia. Maka ketahuilah bahwa keimananmu kepada Allah ta’ala dan kepada Rasul-Nya Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam tidak sah melainkan jika anda juga mengenal agama Islam, mengimani serta mengamalkannya. Sebab itulah agama yang Allah ta’ala ridhoi dan diperintahkan-Nya kepada seluruh rasul-Nya serta diutuskannya kepada penutup rasul-rasul Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam untuk seluruh manusia dan diwajibkan kepada mereka mengamalkannya.


Definisi Islam

   Bersabda penutup rasul-rasul dan utusan Allah kepada seluruh manusia :

[الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً]

“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan haji ke Baitullah jika engkau mampu” (Muttafaq ‘Alaih)
Islam adalah agama universal yang Allah perintahkan kepada seluruh manusia dan diimani rasul-rasul-Nya. Mereka telah menyatakan keislaman mereka kepada Allah. Allah telah nyatakan bahwa Islam itulah agama yang benar dan Allah tidak akan menerima dari siapapun agama selainnya. Allah ta’ala berfirman:

 }إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْأِسْلام{(آل عمران: من الآية19)

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam” (Ali Imron : 19)

Allah ta’ala berfirman :

]وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْأِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ[(آل عمران:85)
 “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Ali Imran : 85)

Makna Umum Kedua Ayat :

Allah ta’ala mengabarkan bahwa agama yang diterima di sisi-Nya hanyalah Islam. Pada ayat lain Allah mengabarkan bahwa Dia tidak akan menerima dari siapapun agama selain agama Islam. Orang-orang yang bahagia setelah mati hanyalah orang-orang Islam saja. Sedang orang-orang yang mati dalam keadaan tidak beragama Islam merugi di kampung akhirat serta disiksa di neraka.
   Oleh karena ini, seluruh para nabi menyatakan keislaman mereka kepada Allah sekaligus mereka menyatakan berlepas diri dari siapa saja yang tidak mau masuk Islam. Siapa saja dari kalangan yahudi dan nasrani yang ingin selamat dan bahagia maka silahkan masuk Islam dan mengikuti Rasul agama Islam, Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam sehingga ia benar-benar menjadi pengikut Musa dan Isa ‘alaihimassalam. Karena Musa, Isa, Muhammad dan seluruh utusan Allah adalah orang Islam. Mereka semua menyeru kepada Islam sebab itulah agama Allah yang diembankan-Nya kepada mereka. Tidak sah bagi siapa saja yang hidup setelah diutusnya penutup para rasul, Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam hingga berakhirnya dunia, tidak sah baginya menamakan diri sebagai seorang muslim (menyerah) kepada Allah dan tidak akan Allah terima pengakuannya ini melainkan jika ia mengimani Muhammad sebagai utusan (rasul) yang datang dari Allah, mengikutinya dan mengamalkan Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepadanya. Allah ta’ala berfirman :

]قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ[ (آل عمران:31)
“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran : 31)

Makna Ayat Secara Umum :
Allah memerintahkan rasul-Nya Muhammad supaya mengatakan kepada orang yang mengaku mencintai Allah : “Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kalian. Sebab Allah tidak akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian melainkan jika kalian mengimani rasul-Nya, Muhammad dan mengikutinya.
   Agama Islam yang Allah embankan kepada rasul-Nya Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam untuk seluruh manusia ini adalah agama Islam yang sempurna, universal lagi penuh toleran, yang telah Allah sempurnakan dan Allah ridhoi sebagai agama bagi hamba-Nya dan tidak Dia terima dari mereka agama apapun selainnya. Agama Islam inilah yang diberitakan sebagai kabar gembira dan diimani oleh para nabi.

Allah ta’ala beriman :


] الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً [(المائدة: من الآية3)

 “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu” (Al Maidah : 3)

Makna Ayat Secara Umum :
Allah Ta’ala memberitahukan pada ayat mulia yang diturunkan-Nya kepada penutup para rasul, Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam ini dimana beliau bersama kaum muslimin sedang mengerjakan wukuf di Arofah di Makkah saat haji Wada’, mereka bermunajat dan berdoa kepada Allah. Peristiwa tersebut terjadi di akhir kehidupan Rasul Muhammad setelah Allah memenangkan beliau, Islam tersebar luas dan Al Qur’an telah turun sempurna.
Allah mengabarkan bahwa Dia telah menyempurnakan untuk kaum muslimin agamanya, dan telah menyempurnakan atas mereka nikmat-Nya yaitu dengan diutusnya Rasul Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam dan diturunkan-Nya Al Qur’an yang agung kepada beliau. Allah mengabarkan bahwa Dia telah meridhoi Islam jadi agama bagi mereka yang tidak akan Dia murkai selamanya dan tidak akan Dia terima dari siapapun agama selainnya.
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Islam yang diembankan-Nya kepada Rasul-Nya Muhammad untuk seluruh manusia merupakan agama yang sempurna, universal lagi relevan untuk setiap zaman, tempat dan umat. Islam merupakan agama yang penuh ilmu, kemudahan, keadilan dan kebaikan. Islam merupakan konsep yang jelas, sempurna dan lurus untuk segala bidang kehidupan. Islam merupakan agama dan negara, didalamnya terdapat konsep yang benar untuk perundang-undangan, pengadilan, politik, sosial, ekonomi dan apa saja yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan mereka di dunia. Agama Islam inilah yang didalamnya terdapat kebahagian mereka di kehidupan akhirat setelah mati. 

Rukun Islam

Islam yang sempurna yang diembankan oleh Allah sebagai misi kepada Rasul-Nya Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam dibangun di atas lima pondasi. Seseorang tidak akan menjadi muslim sebenarnya sampai ia beriman kepada lima pondasi tersebut sekaligus menjalankannya. Yaitu :
1-Bersaksi tidak ada Ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah semata dan Muhammad adalah utusan Allah
2-Menegakan sholat
3-Menunaikan zakat
4-Berpuasa bulan Romadhon
5-Menjalankan haji ke Baitullah Haram jika mampu

Rukun pertama : Bersaksi tidak ada ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah.

Syahadat (persaksian) ini memiliki makna yang harus diketahui seorang muslim berikut diamalkannya. Adapun orang yang mengucapkannya secara lisan namun tidak mengetahui maknanya dan tidak mengamalkannya maka tidak ada manfaat sama sekali dengan syahadatnya. Makna “la ilaha Illallah” yaitu; tidak yang berhak diibadahi secara hak di bumi maupun di langit melainkan Allah semata. Dialah ilah yang hak sedang ilah (sesembahan) selain-Nya adalah batil. Sedang Ilah maknanya ma’bud (yang diibadahi).
Orang yang beribadah kepada selain Allah adalah kafir dan musyrik terhadap Allah sekalipun yang dia sembah itu seorang nabi atau wali. Sekalipun ia beralasan supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dan bertawasul kepadanya. Sebab orang-orang musyrik yang dulu memerangi Rasul e, mereka tidak menyembah para nabi dan wali melainkan dengan memakai alasan ini. Akan tetapi itu merupakan alasan batil lagi tertolak. Sebab mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dan bertawasul kepada-Nya tidak boleh dengan cara menyelewengkan ibadah kepada selain Allah. Melainkan hanya dengan menggunakan nama-nama dan sifat-Nya, dengan perantaraan amal sholeh yang diperintahkan-Nya seperti sholat, shodaqah, dzikir, puasa, jihad, haji, bakti kepada orang tua serta lainnya, demikian pula dengan perantara doanya seorang mukmin yang masih hidup dan hadir dihadapannya ketika mendoakan.
  
Ibadah beraneka ragam :
Diantaranya doa: yaitu memohon kebutuhan dimana hanya Allah yang mampu melakukannya seperti menurunkan hujan, menyembuhkan orang sakit, menghilangkan kesusahan yang tidak mampu dilakukan oleh makhluk. Seperti pula memohon surga dan selamat dari neraka, memohon keturunan, rizki, kebahagiaan dan sebagainya.
   Semua ini tidak boleh dimohonkan kecuali kepada Allah. Siapa yang memohon hal itu kepada makhluk baik masih hidup atau sudah mati berarti ia telah menyembahnya. Allah ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya supaya berdoa hanya kepada-Nya berikut mengabarkan bahwa doa itu satu bentuk ibadah. Siapa yang menujukannya kepada selain Allah maka ia termasuk penghuni neraka. “Dan Robmu berfirman :

]ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ[(غافر:60)
 “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (yakni berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka dalam keadaan hina dina” (Al Mukmin : 60)
   Allah ta’ala berfirman mengabarkan bahwa semua yang diseru selain Allah tidak memiliki manfaat atau madhorot untuk seorangpun sekalipun yang diseru itu nabi-nabi atau para wali.

]قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلاً[  (الاسراء:56)
            “Katakanlah : “Panggilah mereka yang kamu anggap (Robb) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya” (Al Isra’ : 56)

Allah ta’ala berfirman:

]وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً[(الجـن:18)

: “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping menyembah Allah” (Jin : 18)

Diantara macam ibadah : Menyembelih binatang, bernadzar dan mempersembahkan hewan kurban.
   Tidak sah seseorang bertaqarrub dengan cara menyembelih binatang atau mempersembahkan hewan kurban atau bernadzar kecuali hanya ditujukan kepada Allah semata. Barangsiapa menyembelih karena selain Allah seperti orang yang menyembelih demi kuburan atau jin berarti ia telah menyembah selain Allah dan berhak mendapat laknat-Nya.

Allah ta’ala berfirman :

]قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) (162)لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ[(163) الأنعام
“Katakanlah : “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb seemesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (Al An’am : 162-163)
  
Rasul e bersabda :

لعن الله من ذبح لغير الله حديث صحيح، رواه مسلم.

“Allah melaknat orang yang menyembelih demi selain Allah” hadits shohih diriwayatkan oleh Imam Muslim.

   Jika seseorang berkata: “Demi si fulan saya bernadzar jika saya memperoleh ini, saya akan bersedekah sekian atau saya akan berbuat demikian”. Nadzar seperti ini merupakan syirik kepada Allah sebab ia bernadzar kepada makhluk. Sedang nadzar itu satu bentuk ibadah tidak boleh dilakukan kecuali ditujukan hanya kepada Allah. Adapun nadzar yang dibolehkan adalah; berkata : “Demi Allah saya bernadzar akan bersedekah sekian atau berbuat ketaatan demikian, jika saya memperoleh demikian”

Diantara bentuk ibadah : Istighotsah (memohon bantuan), istianah (memohon pertolongan) dan istiadzah (memohon perlindungan).
   Tidak ada yang boleh dimintai bantuan ataupun pertolongan ataupun perlindungan kecuali Allah saja. Allah ta’ala berfirman  dalam Al Qur’an Al karim :

]إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ[ (الفاتحة:5)
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”  (Al Fatihah : 4)

Allah ta’ala berfirman :

]قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) (1)مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ[(2) الفلق
“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Robb Yang Menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya” (Al Falaq:1-2)

Rasul e bersabda :

لا يستغاث بي إنما يستغاث بالله حديث صحيح رواه الطبراني.

“Tidak boleh beristighotsah (memohon bantuan) kepadaku. Yang boleh dimohoni bantuan hanyalah Allah saja” (Hadits shohih diriwayatkan oleh Imam Thobrani)
  
Rasul e bersabda :

إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله حديث صحيح رواه الترمذي

“Jika kamu memohon maka memohonlah kepada Allah dan jika kamu minta tolong maka mintalah pertolongan kepada Allah” (Hadits shohih diriwayatkan oleh Tirmidzi)
Orang yang masih hidup dan hadir boleh dimintai bantuan dan pertolongan pada perkara yang mampu ia lakukan saja. Adapun minta perlindungan maka yang boleh dimintai perlindungan hanya Allah. Sedang orang mati atau tidak ada tidak boleh dimintai bantuan maupun pertolongan sama sekali. Karena ia tidak memiliki apa-apa sekalipun ia adalah seorang Nabi, Wali atau Malaikat.
Tidak ada yang mengetahui perkara ghaib melainkan Allah saja. Maka siapa yang mendakwakan dirinya mengetahui perkara ghaib berarti ia kafir dan wajib didustakan. Sekalipun ia meramal sesuatu lalu benar terjadi maka hal itu hanya bersifat kebetulan. Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal lalu mempercayai apa yang dikatakannya maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad" (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan hakim).

Diantara bentuk ibadah : Tawakal, Roja (berharap) dan Khusyu'.
Manusia tidak boleh bertawakal selain kepada Allah, tidak boleh berharap selain kepada Allah, dan tidak boleh khusyu' melainkan kepada Allah semata.
Sangat disayangkan mayoritas orang-orang yang mengaku beragama Islam menyekutukan Allah. Mereka berdoa kepada selain Allah baik berupa orang-orang yang masih hidup lagi diagungkan atau kepada penghuni kubur. Melakukan thowaf di kuburan mereka dan meminta dipenuhi hajatnya kepada mereka. Ini merupakan bentuk peribadatan kepada selain Allah dimana pelakunya bukan lagi disebut sebagai seorang muslim sekalipun mengaku Islam, mengucapkan la ila illallah Muhammad rasulullah, mengerjakan sholat, berpuasa dan bahkan haji ke baitullah.

Allah ta'ala berfirman :

]وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ[ (الزمر:65)
 "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi" (Az Zumar : 65)

Allah ta'ala berfirman :

] إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ[(المائدة: من الآية72)

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka  pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidak ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolongpun" (Al Maidah : 72)
Allah ta'ala memerintahkan Rasul-Nya Muhammad SAW supaya menyatakan kepada manusia :

]قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً[ (الكهف:110)

"katakanlah : "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Robb kamu itu adalah Robb Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada-Nya" (Al Kahfi : 110)
Orang-orang bodoh itu telah tertipu dengan ulama' jahat lagi sesat yang hanya sekedar tahu sebagian cabang-cabang ilmu namun bodoh terhadap tauhid yang merupakan pondasi agama. Jadilah mereka menyeru kepada kesyirikan karena memang tidak memahami maknanya dengan label ‘syafaat dan wasilah’. Alasan mereka mengenai hal itu hanya berupa ta'wil-ta'wil salah terhadap nash-nash dan hadits-hadits yang didustakan atas nama Rasulullah e baik dulu maupun sekarang, kisah-kisah dan mimpi yang dirasuki syaitan serta berbagai bentuk kesesatan semisal itu yang mereka kumpulkan di buku-buku mereka dalam rangka membenarkan peribadatan mereka kepada selain Allah demi mengikuti syaitan dan hawa nafsu serta taklid buta kepada nenek moyang sebagaimana kondisi orang-orang musyrik dulu.
Wasilah yang Allah perintahkan kita untuk mencarinya dalam firman Allah U :
] وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ[(المائدة:35)
 “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya” (Al Maidah : 35) adalah amal-amal shaleh yang berupa mentauhidkan Allah, sholat, sedekah, puasa, haji, jihad, amar ma’ruf nahi mungkar, menyambung tali silaturrahmi  dan semisalnya. Adapun berdoa kepada orang-orang mati dan meminta bantuan kepada mereka ketika menghadapi kesulitan maka ini merupakan peribadatan kepada mereka selain Allah.
Syafaat para nabi, wali dan selain mereka dari kalangan kaum muslimin yang diijinkan Allah untuk memberi syafaat adalah kebenaran yang harus kita imani. Akan tetapi syafaat tersebut tidak boleh diminta dari orang-orang mati. Karena syafaat itu hak Allah yang tidak bisa diperoleh seorangpun melainkan atas ijin-Nya. Maka seorang yang bertauhid kepada Allah meminta syafaat kepada Allah ta’ala dengan mengatakan : “Ya Allah, ijinkanlah Rasul-Mu dan hamba-hamba-Mu yang shaleh untuk memberi syafaat kepadaku”. Dan tidak boleh mengatakan : “Wahai Fulan, berilah aku syafaat” karena ia sudah mati. Sedangkan orang mati tidak boleh dimintai sesuatupun selamanya. Allah ta’ala berfirman :

]قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعاً لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ[(الزمر:44)
“Katakanlah : “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Az Zumar : 44)
Termasuk bid’ah haram yang menyelisihi Islam dan dilarang oleh Rasulullah e dalam hadits-hadits shohih di kitab Shohih Bukhori dan Muslim serta kitab-kitab Sunan; yaitu membangun masjid di atas kuburan dan menaruh di atasnya lampu, membuat bangunan di atasnya dan menulisinya, membikin tabir di atasnya serta sholat di kuburan. Semua ini dilarang oleh Rasul e karena termasuk sebab terbesar disembahnya orang-orang yang ada di dalam kuburan.
Berdasarkan hal ini jelaslah bahwa diantara bentuk kesyirikan kepada Allah apa yang diperbuat orang-orang bodoh di banyak negara, seperti kuburan Badawi dan Sayyidah Zainab di Mesir, kuburan Abdul Qadir Jailani di Iraq, kuburan orang-orang yang dianggap Ahli Bait –radliyallahu anhum- di daerah Najf dan Karbala di Iraq serta kuburan-kuburan lain di banyak negara yang dikerjakan thowaf di sekelilingnya, dimintai hajat kepada penghuninya serta diyakini dapat memberi manfaat dan madhorot.
Jelaslah akibat perbuatan mereka ini, mereka menjadi orang-orang musyrik lagi sesat sekalipun mereka mengaku Islam, mengerjakan sholat, puasa, haji ke baitullah dan mengucapkan La Ilaha Illallah Muhammadu Rasulullah. Sebab orang yang mengucapkan La Ilaaha Illallah Muhammadu Rasulullah tidak dianggap sebagai orang yang mentauhidkan Allah sampai ia mengetahui makna sekaligus mengaplikasikannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Adapun orang non muslim maka ia masuk Islam mula-mula dengan mengucapkan kalimat syahadat tersebut lalu disebut seorang muslim sampai nampak darinya perbuatan yang menafikan syahadatnya dimana ia tetap dalam kesyirikan sebagaimana orang-orang bodoh itu atau ia mengingkari suatu kewajiban Islam setelah ia tahu atau ia meyakini suatu ajaran yang menyelisihi agama Islam.
Para nabi dan wali berlepas diri dari orang yang berdoa dan meminta bantuan kepada mereka. Karena Allah ta’ala mengutus rasul-rasul-Nya dalam rangka supaya menyeru manusia untuk beribadah kepada-Nya saja berikut meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya entah itu seorang nabi, wali atau yang lain.
Mencintai Rasul e dan para wali pengikut beliau bukan dengan cara menyembah mereka karena peribadatan kepada mereka berarti memusuhi mereka. Akan tetapi mencintai mereka adalah dengan cara meneladani mereka dan meniti di atas jalannya. Seorang muslim yang benar mencintai para nabi dan wali namun tidak menyembah mereka. Kita meyakini bahwa mencintai Rasul e adalah wajib kita dahulukan di atas kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga, anak dan manusia seluruhnya.

Firqoh Najiyah :
Kaum muslimin itu banyak dalam kwantitas namun sebenarnya sedikit. Sedang kelompok-kelompok yang menisbahkan diri kepada Islam sangat banyak mencapai 73 golongan. Jumlah kaum muslimin satu milyar lebih. Akan tetapi golongan Islam yang sebenarnya hanya satu yaitu yang mentauhidkan Allah ta’ala dan meniti di atas jalan Rasulullah e dan sahabatnya dalam perkara akidah dan amal shaleh. Sebagaimana hal itu telah dikabarkan oleh Rasul e dengan sabdanya

افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قال الصحابة : من هي يا رسول الله ؟ من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي رواه البخاري مسلم .

: “Kaum yahudi terpecah menjadi 71 golongan, kaum nasrani terpecah menjadi 72 golongan sedang umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu” Para sahabat berkata: “Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah e? Beliau bersabda : “Yaitu yang berada di atas sebagaimana yang aku dan sahabatku lalui hari ini” Diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Sedang jalan yang dilalui nabi e dan sahabatnya adalah meyakini makna La Ilaha Illallah Muhammadu rasulullah berikut mengaplikasikannya dengan hanya berdoa kepada Allah semata, menyembelih binatang dan bernadzar hanya karena Allah, mohon bantuan, pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah. Meyakini yang memberi manfaat dan madhorot hanya Allah semata, menunaikan rukun-rukun Islam dengan mengikhlaskan niat karena-Nya semata. Membenarkan adanya malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, kebangkitan setelah mati, hisab (penghitungan amal), surga dan neraka, taqdir yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah ta’ala. Juga berhukum kepada Al Qur’an dan Sunnah dalam semua sektor kehidupan dan rela dengan keputusan-Nya, loyalitas kepada wali-wali Allah sebaliknya memberikan sikap permusuhan terhadap musuh-musuh-Nya, berdakwah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya dan berkumpul demi itu, mendengar dan taat terhadap pemimpin muslim jika memerintahkan yang ma’ruf, mengatakan kebenaran dimanapun mereka berada.            
Begitu pula mencintai istri-istri dan keluarga Nabi serta mengurusinya, mencintai sahabat Rasulullah, mendahulukan mereka sesuai tingkat keutamaannya, meridhoi mereka semua, menahan dari membicarakan sengketa antara mereka, tidak mempercayai tuduhan kaum munafik terhadap sebagian sahabat. Itulah tuduhan yang mereka maksudkan untuk memecah belah kaum muslimin dan karenanya terperdaya sebagian ulama dan ahli sejarah sehingga mereka tulis di buku-buku karangan mereka berdasarkan niat baik padahal hal ini suatu kesalahan.
Mereka yang mengaku dari kalangan Ahli Bait (keluarga rasul) dan menyebut dirinya para Sayyid hendaknya mereka mengoreksi kembali kebenaran nasab (garis keturunan) mereka. Karena Allah melaknat orang yang menisbahkan nasab keturunannya kepada bukan bapaknya. Dan jika garis keturunan mereka memang benar maka hendaknya mereka meneladani Rasul dan keluarganya dalam memurnikan tauhid kepada Allah semata, meninggalkan kemaksiyatan dan tidak rela dengan penghomatan manusia kepada mereka, diciumi lutut dan kaki mereka. Janganlah mereka membedakan diri dari saudara-saudara mereka kaum muslimin dengan pakaian khusus. Karena semua itu menyelisihi apa yang ada pada Rasul sedang beliau berlepas diri darinya. Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad dan keluarganya.   

Hukum dan Syariat Hak Preogatif Allah


Diantara makna La Ilaaha Illallah yang harus diyakini dan diapliakasikan dalam kehidupan adalah bahwa hukum dan membuat syariat adalah hak preogatif Allah. Tidak boleh seorangpun manusia membuat undang-undang menyelisihi syariat Allah dalam perkara apapun. Seorang muslim juga tidak boleh memutuskan hukum tidak menurut apa yang Allah turunkan dan tidak boleh rela dengan hukum yang menyelisihi syariat Allah. Tidak boleh seorangpun menghalalkan apa yang Allah haramkan atau sebaliknya mengharamkan apa yang Allah halalkan. Siapa yang sengaja melakukan itu atau rela dengannya berarti ia kafir kepada Allah. Allah ta’ala berfirman :

] وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ[(المائدة: من الآية44)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al Maidah : 44).
Tugas Rasul yang diembankan oleh Allah kepada mereka adalah menyeru manusia kepada kalimat tauhid (La Ilaaha Illallah), mengaplikasikan tuntutannya yaitu beribadah kepada Allah saja serta keluar dari peribadatan kepada makhluk dan undang-undangnya menuju peribadatan kepada Sang Khalik dan syariat-Nya saja tanpa sekutu.
Siapa yang membaca Al Qur’an dengan penuh tadabur dan menjauhi taklid buta pasti akan mendapati bahwa apa yang telah kami jelaskan tadi benar adanya. Dia akan dapati bahwa Allah telah membatasi hubungan antara manusia dengan-Nya dan antara sesama. Allah menjadikan hubungan hamba-Nya yang mukmin dengan-Nya yaitu beribadah kepada Allah dengan seluruh macam ibadah sehingga tidak boleh sedikitpun ditujukan kepada selain-Nya. Allah menjadikan hubungan antara manusia dengan para nabi dan hamba-hamba-Nya yang sholeh yaitu mencintai mereka dengan kecintaan yang lahir dari kecintaan kepada Allah berikut meneladani mereka. Allah menjadikan hubungan hamba dengan musuh-musuh-Nya yaitu dengan memberikan sikap kebencian terhadap mereka karena Allah membenci mereka. Selain itu pula supaya hamba menyeru mereka kepada Islam. Menjelaskan Islam kepada mereka barangkali mereka mendapatkan petunjuk. Dan supaya kaum muslimin memerangi mereka jika mereka menolak Islam dan menolak untuk tunduk terhadap hukum Allah sampai tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya milik Allah. Inilah makna kalimat tauhid (La Ilaaha Illallah) yang harus diketahui seorang muslim dan mengaplikasikannya dalam kehidupan supaya menjadi muslim sebenarnya.

Makna Syahadat “Muhammad Rasulullah”


Makna syahadat “Muhammad Rasulullah” adalah anda mengetahui dan meyakini bahwa Muhammad utusan Allah kepada seluruh manusia, dia seorang hamba biasa yang tidak boleh disembah, sekaligus rasul yang tidak boleh didustakan. Akan tetapi harus ditaati dan diikuti. Siapa yang menaatinya masuk surga dan siapa yang mendurhakainya masuk neraka. Selain itu anda juga mengetahui dan meyakini bahwa sumber pengambilan syariat sama saja apakah mengenai syiar-syiar ibadah ritual yang diperintahkan Allah maupun  aturan hukum dan syariat dalam segala sector maupun mengenai keputusan halal dan haram. Semua itu tidak boleh kecuali lewat utusan Allah yang bisa menyampaikan syariat-Nya. Oleh karena itu seorang muslim tidak boleh menerima satu syariatpun yang datang bukan lewat Rasul e. Allah ta’ala berfirman :

] وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا[(الحشر: من الآية7)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (Al Hasyr : 7).

Allah ta’ala juga berfirman :

]فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً[ (النساء:65)
 “Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh hati” (An Nisa’ : 65)
Makna kedua ayat :
Pada ayat pertama Allah memerintahkan kaum muslimin supaya menaati Rasul-Nya Muhammad e pada seluruh yang diperintahkannya dan berhenti dari seluruh yang dilarangnya. Karena beliau memerintah hanyalah berdasarkan dengan perintah Allah dan melarang berdasar larangan-Nya.          
Pada ayat kedua Allah bersumpah dengan diri-Nya yang suci bahwa sah iman seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya hingga ia mau berhukum kepada Rasul dalam perkara yang diperselisihkan antara dia dengan orang lain, kemudian ia puas keputusannya dan menerima dengan sepenuh hati. Rasul e bersabda :

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردّ رواه مسلم

 “Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada contohnya dari urusan kami maka ia tertolak” Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.

Seruan :
Jika anda telah mengetahui makna ‘La Ilaaha Illallah Muhammadu Rasulullah’ dan anda telah mengetahui syahadat ini merupakan pintu Islam dan pondasi dibangunnya Islam. Untuk itu ucapkanlah dari lubuk hati anda secara tulus karena Allah : “Saya bersaksi tidak ada Illah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan saya bersaksi Muhammad utusan Allah” lalu aplikasikanlah makna syahadat ini supaya anda memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat dan supaya anda selamat dari azab Allah setelah mati.
Ketahuilah bahwa diantara tuntutan syahadat ‘La Ilaaha Illallah Muhammadu Rasulullah’ adalah menjalankan sisa rukun Islam yang lain. Karena Allah mewajibkan rukun-rukun ini kepada seorang muslim supaya ia beribadah kepada-Nya dengan menjalankan rukun-rukun tersebut secara benar dan tulus ikhlas karena-Nya semata. Siapa meninggalkan salah satu rukun tersebut tanpa alasan yang dibenarkan syar’iat berarti ia telah mengurangi makna ‘La Ilaaha Illallah’ dan syahadatnya dianggap tidak sah.

 

Rukun Islam Kedua ;  Sholat

Ketahuilah bahwa rukun Islam kedua adalah sholat; yaitu sholat lima waktu sehari semalam yang Allah syariatkan untuk menjadi sarana interaksi antara Allah dengan seorang muslim dimana ia bermunajat dan berdoa kepada-Nya. Juga untuk menjadi sarana pencegah bagi seorang muslim dari perbuatan keji dan mungkar sehingga ia memperoleh kedamaian jiwa dan badan yang dapat membahagiakannya di dunia dan akhirat.
   Allah mensyariatkan dalam sholat suci badan, pakaian, dan tempat yang digunakan untuk sholat. Maka seorang muslim membersihkan diri dengan air suci dari semua barang najis seperti air kecil dan besar dalam rangka mensucikan badannya dari najis lahir dan hatinya dari najis batin.
   Sholat merupakan tiang agama. Ia sebagai rukun terpenting Islam setelah dua kalimat syahadat. Seorang muslim wajib memeliharanya semenjak usia baligh (dewasa) hingga mati. Ia wajib memerintahkannya kepada keluarga dan anak-anaknya semenjak usia tujuh tahun dalam rangka membiasakannya. Allah ta’ala berfirman :

] إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَوْقُوتاً[(النساء: من الآية103)

 “Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (An Nisa: 103)
   Allah juga berfirman :

]وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ[ (البينة:5)
 “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan demikian itulah agama yang lurus” (Al Bayyinah : 5)

Makna Umum Kedua Ayat ;
   Pada ayat pertama Allah mengkhabarkan bahwa sholat merupakan kewajiban yang sangat ditegaskan atas orang-orang mukmin. Mereka wajib menunaikannya tepat pada waktunya yang telah ditentukan.
   Pada ayat kedua Allah U mengkhabarkan bahwa perkara yang Allah titahkan kepada manusia dan Dia ciptakan mereka dalam rangka perkara tersebut adalah supaya mereka menyembah-Nya semata dan memurnikan ibadah mereka kepada-Nya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerima.
   Sholat wajib bagi seorang muslim dalam kondisi apapun hingga pada kondisi ketakutan dan sakit. Ia menjalankan sholat sesuai kemampuannya baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring hingga sekalipun tidak mampu kecuali sekedar dengan isyarat mata atau hatinya maka ia boleh sholat dengan isyarat. Rasul e mengkhabarkan bahwa orang yang meninggalkan sholat itu bukanlah seorang muslim entah laki atau perempuan. Beliau bersabda :

]العهد الذي بيننا وبينكم الصلاة فمن تركها فقد كفر[

“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah sholat. Siapa yang meninggalkannya berarti telah kafir” Hadits shohih.
Sholat lima waktu itu adalah sholat Fajar, sholat Dhuhur, sholat Ashar, sholat Isya’, sholat Maghrib dan sholat Isya’.
Waktu sholat fajar dimulai dari munculnya mentari pagi di Timur dan berakhir saat terbit matahari. Tidak boleh menunda sampai akhir waktunya. Waktu sholat Dhuhur dimulai dari condongnya matahari hingga sesuatu sepanjang bayang-bayangnya. Waktu sholat Ashar dimulai setelah habisnya waktu Dhuhur hingga matahari menguning dan tidak boleh menundanya hingga akhir waktu. Akan tetapi ditunaikan selama matahari masih putih cerah. Waktu Maghrib dimulai setelah terbenamnya matahari dan berakhir dengan lenyapnya senja merah dan tidak boleh ditunda hingga akhir waktunya. Sedang waktu sholat Isya’ dimulai setelah habisnya waktu maghrib hingga akhir malam dan tidak boleh ditunda setelah itu.
Seandainya seorang muslim menunda-nunda sekali sholat saja dari ketentuan waktunya hingga keluar waktunya tanpa alasan yang dibenarkan syariat diluar keinginannya maka ia telah melakukan dosa besar. Ia harus bertaubat kepada Allah dan tidak mengulangi lagi.




Hukum-hukum sholat :
Pertama; suci. Sebelum seorang muslim memasuki sholatnya harus bersuci dahulu. Ia bersihkan dua lobang pertama-tama jika sebelumnya ia kencing atau berak kemudian berwudhu.
Wudhu; ia meniatkan dalam hatinya untuk bersuci tanpa melafadzkan niat. Karena Allah Maha Mengetahui dirinya dan Rasul e sendiri tidak pernah melafadzkannya. Kemudian membaca ‘Bismillah’ lalu berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya. Membasuh seluruh mukanya. Kemudian membasuh kedua tangan hingga lengan dimulai dari tangan kanan. Kemudian mengusap seluruh kepalanya dengan tangannya berikut mengusap kedua telinganya. Kemudian membasuh kedua kakinya hingga mata kaki dimulai dari yang kanan.
Jika selepas bersuci seseorang keluar air kencing, berak, atau kentut atau hilang kesadarannya karena tidur atau pingsan maka ia mengulangi lagi bersuci jika hendak mendirikan sholat. Apabila seorang muslim dalam keadaan junub dimana telah keluar air mani karena syahwat sekalipun waktu tidur entah laki atau perempuan maka bersucinya mandi dengan cara membasuh seluruh badannya dari janabah. Sedangkan wanita jika telah suci dari haidh atau nifas maka ia harus bersuci dengan cara mandi membasuh seluruh badannya. Karena wanita haidh atau nifas tidak sah sholatnya dan tidak wajib sholat hingga bersuci dahulu. Allah telah memberikan keringanan bagi keduanya dengan tidak perlu mengqodho’ (mengganti) sholat yang ditinggalkannya selama masa haidh dan nifas. Adapun selain itu maka wajib diqodho amalan-amalan yang ditinggalkannya sebagaimana laki-laki.
Jika tidak ada air atau memakai air bisa membahayakan dirinya seperti orang sakit maka ia bersuci dengan tayammum. Cara bertayamum : niat bersuci dalam hati, membaca Bismillah kemudian menepukkan kedua tangannya ke tanah sekali dan mengusapkannya ke muka kemudian mengusap bagian atas tapak kanan dengan bagian dalam tangan kiri dan sebaliknya mengusap bagian atas/luar tapak kiri dengan bagian dalam tangan kanan. Dengan demikian ia telah bersuci. Tayammum ini berlaku pula bagi setiap wanita haidh atau nifas jika telah suci. Dan berlaku bagi orang yang junub serta yang ingin berwudhu ketika tidak mendapatkan air atau takut menggunakan air.

 

Kedua; Sifat Sholat

1-Sholat Fajar; yaitu dua rekaat. Seorang Muslim baik laki atau perempuan menghadap ke kiblat, yaitu Ka’bah yang berada di dalam Masjid Al Haram di Mekkah. Ia meniatkan dalam hatinya hendak mengerjakan sholat Fajar (Shubuh) dan tak perlu melafadzkan niatnya. Kemudian bertakbir dengan mengucapkan “Allahu Akbar”. Kemudian membaca doa istiftah, diantaranya:

سبحانك اللهم وبحمدك وتبارك اسمك وتعالى جدك ولا إله غيرك

“Subhanakallahumma wa bihamdika wa tabaaraka ismuka wa ta’ala jadduka wa laailaaha ghairuka, A’udzubillahiminasy syaithanirrajim” (Maha suci Engkau Ya Allah dengan memuji-Mu, Maha Mulia nama-Mu, Maha Tinggi kemuliaan-Mu, tiada Ilah yang berhak disembah selain-Mu.
Kemudian membaca :
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk). Kemudian membaca surat Al Fatihah; yaitu:

]بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ(1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين(2)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ(4)إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين      (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(6)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّين[(7)
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Robb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang Engkau murkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani).)
2-Adapun sholat Dhuhur, Ashar dan Isya maka masing-masing terdiri dari empat rekaat dimana dua rekaat pertama ia kerjakan sebagaimana ia mengerjakan dua rokaat subuh. Hanya saja apabila ia duduk setelah selasai dua rekaat tersebut untuk tasyahud dan membaca sebagaimana apa yang ia baca pada duduknya sebelum salam, ia tidak salam akan tetapi ia berdiri dan mnyempurnakan dua rekaat sebagaimana dua rekaat pertama. Kemudian setelah itu duduk kedua kali untuk tasyahud dan membaca seeperti yang dibacanya pada duduk yang pertama lalu membaca sholawat atas nabi saw kemudian salam ke kanan lalu ke kiri sebagaimana ia salam pada sholat subuh.
3-Adapun sholat Maghrib berupa tiga rekaat. Dikerjakan dua rekaat pertama sebagaimana yang lalu. Kemudian duduk dan membaca apa yang dibacanya pada sholat-sholat lain. Hanya saja tidak salam akan tetapi berdiri dan mnyempurnakan rekaat ketiga, seraya membaca dan melakukan gerakan sebagaimana yang dibaca dan dilakukan sebelumnya. Kemudian duduk setelah melakukan sujud kedua seraya membaca pada duduknya seperti apa yang dibacanya pada setiap sholat. Kemudian salam ke kanan lalu ke kiri. Jika orang yang sholat mengulang-ulang bacaannya dalam ruku’ dan sujudnya maka itu lebih utama.
Kaum laki wajib menjalankan sholat lima waktu ini secara berjamaah di masjid maju ke depan mereka seorang imam yang paling baik bacaan Qur’annya, paling mengerti tentang sholat dan paling baik agamanya. Imam mengeraskan bacaannya secara nyaring pada saat berdirinya sebelumnya rukuk pada sholat subuh, dua rekaat pertama dalam sholat Maghrib, dan Isya sedang orang yang dibelakang mendengarkannya.
Kaum wanita menunaikan sholat lima waktunya di rumah dengan penutup yang menutupi seluruh tubuhnya hingga tangan dan tapak kaki. Karena semua tubuh wanita itu aurat kecuali mukanya dan diperintahkan untuk menutupinya dari laki-laki lain. Karena muka wanita merupakan fitnah yang dengan mukanya itu ia bisa dikenal sehingga bisa disakiti. Jika seorang msulimah ingin sholat di masjid maka tidak ada halangan dengan syarat ia keluar dalam keadaan tertutup rapat dan tanpa berminyak wangi. Ia sholat di belakang kaum laki supaya tidak membuat fitnah mereka dan tidak pula ia terfitnah oleh mereka.
Seorang muslim harus menunaikan sholat karena Allah dengan khusu’,merendah dan menghadirkan hati. Tuma’ninah (tenang) ketika berdiri, ruku’, dan sujud, tidak boleh mempercepat gerakan, banyak gerakan yang tak penting, tidak mengangkat pandangan kearah langit serta tidak boleh mengucapkan dengan selain Al Qur’an. Dzikir-dzikir sholat. Masing-masing ada pada tempatnya[[3]] karena Allah ta’ala memerintahkan sholat dalam rangka mengingat-Nya.
Pada hari Jum’ah kaum muslimin menunaikan sholat Jum’ah dua rokaat. Imam mengeraskan bacaanya dalam kedua rokaat tersebut seperti sholat subuh. Sebelumnya imam menyampaikan dua kali khutbah digunakan untuk mengingatkan kaum muslimin dan mengajarkan kepada mereka perkara-perkara agama. Kaum laki wajib menghadiri sholat Jum’ah ini bersama imam dimana ia merupakan sholat dhuhurnya hari Jum’ah.

Rukun Islam ketiga, Zakat

Allah telah memerintahkan setiap muslim yang memilki harta mencapai nisab untuk mengeluarkan zakat hartanya setiap tahun. Ia berikan kepada yang berhak menerima dari kalangan fakir serta selain mereka yang zakat boleh diserahkan kepada mereka sebagaimana telah diterangkan dalam Al Qur’an.
Nishab emas sebanyak 20 mitsqal. Nishab perak sebanyak 200 dirham atau mata uang kertas yang senilai itu. Barang-barang dagangan dengan segala macam jika nilainya telah mencapai nishab wajib pemiliknya mengeluarkan zakatnya manakala telah berlalu setahun. Nishab biji-bijian dan buah-buahan 300 sha’. Rumah siap jual dikeluarkan zakat nilainya. Sedang rumah siap sewa saja dikeluarkan zakat upahnya. Kadar zakat pada emas, perak dan barang-barang dagangan 2,5 % setiap tahunnya. Pada biji-bijian dan buah-buahan 10 % dari yang diairi tanpa kesulitan seperti yang diairi dengan air sungai, mata air yang mengalir atau hujan. Sedang 5 % pada biji-bijian yang diairi dengan susah seperti yang diairi dengan alat penimba air.
   Waktu mengeluarkan zakat biji-bijian dan buah-buahan ketika masa panen. Jika masa panennya dalam setahun dua atau tiga kali maka wajib dizakati setiap kalinya. Binatang unta, sapi dan kambing nilai zakatnya telah dijelaskan dalam kitab-kitab hukum Islam maka anda bisa merujuknya.  Allah ta’ala berfirman :

]وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ[ (البينة:5)
 “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (dalam menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan demikian itulah agama yang lurus” (Al Bayyinah : 5).

   Diantara manfaat mengeluarkan zakat menghibur jiwa orang-orang fakir dan menutupi kebutuhan mereka serta menguatkan ikatan cinta antara mereka dan orang kaya.
   Agama Islam tidak berhenti dalam persoalan tanggungan sosial dan saling bantu materi antara kaum muslimin sebatas pada zakat. Akan tetapi Allah mewajibkan orang kaya untuk menghidupi kaum fakir pada saat kelaparan dan mengharamkan seorang muslim kenyang sedang tetangganya dalam keadaan lapar. Allah juga mewajibkan zakat fitrah atas seorang muslim yang dikeluarkan pada hari idul fitri, yaitu satu sha’ bahan makanan yang dimakan di negara tersebut untuk setiap jiwa hingga anak kecil dan pembantu supaya dikeluarkan zakat fitrahnya oleh walinya. Allah mewajibkan atas muslim untuk membayar kafarat sumpah jika bersumpah akan melakukan suatu perbuatan namun tidak ia lakukan. Allah mewajibkan atas muslim untuk memenuhi nadzar yang dibolehkan syariat. Allah menganjurkan muslim untuk mengeluarkan shadaqah suka rela seraya menjanjikan orang-orang yang berinfaq di jalan-Nya dalam bentuk kebajikan dengan pahala besar. Allah menjanjikan akan melipat gandakan pahala mereka dengan banyak lipatan. Satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali hingga tujuh ratus lipatan sampai lipatan yang banyak lagi.

Rukun Islam Keempat: puasa
Puasa bulan Romadhon yaitu bulan kesembilan dari bulan hijrah.

Sifat puasa:
Seorang muslim berniat puasa sebelum waktu subuh (fajar) terang. Kemudian menahan dari makan, minum dan jima’ (hubungan lain jenis) hingga terbenamnya matahari kemudian berbuka. Ia kerjakan hal itu selama hari bulan Romadhon. Dengan itu ia menghendaki ridho Allah ta’ala dan beribadah kepada-Nya.
   Dalam puasa terdapat beberapa manfaat tak terhingga. Diantara yang terpenting :
1-Ia merupakan ibadah kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Seorang hamba meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya demi Allah. Hal itu diantara sarana terbesar mencapai taqwa kepada Allah ta’ala.
2-Adapun manfaat puasa dari sudut kesehatan, ekonomi, sosial maka amat banyak. Tidak ada yang dapat mengetahuinya selain mereka yang berpuasa atas dorongan akidah dan iman. Allah ta’ala berfirman :

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[ (البقرة:183)

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al Baqarah : 183)
hingga firman-Nya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Romadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersukur. (Al Baqarah : 185)
Diantara hukum-hukum berkaitan dengan puasa yang Allah terangkan dalam Al Qur’an dan Rasul saw jelaskan dalam hadits-haditsnya :
1-Orang sakit dan orang yang sedang dalam perjalanan boleh berbuka dan mengganti hari-hari yang ia tidak berpuasa di hari-hari lain setelah bulan Romadhon.
2-Wanita yang mengalami haidh dan nifas tidak sah puasanya akan tetapi ia berbuka pada hari-hari haidh dan nifasnya. Dan mengganti (mengqadha’) hari-hari yang ia tidak berpuasa.

3-Demikian pula wanita hamil dan wanita yang menyusui jika keduanya mengkhawatirkan dirinya atau anaknya maka boleh berbuka dan mengganti (qodha’).
Seandainya seorang berpuasa makan atau minum karena lupa kemudian ia ingat maka puasanya sah. Sebab kelupaan, khilaf, dan dipaksa telah dimaafkan Allah atas umat Muhammad saw. Dan wajib segera mengeluarkan makanan yang ada dalam mulutnya.   

Rukun Islam Kelima : Haji
Rukun Islam kelima adalah haji ke baitullah Al haram sekali seumur hidup. Adapun lebihnya maka merupakan tathawwu’. Dalam ibadah haji terdapat manfaat tak terhingga :
Pertama, haji merupakan bentuk ibadah kepada Allah ta’ala dengan ruh, badan dan harta.
Kedua, ketika haji kaum muslimin dari segala penjuru dapat berkumpul dan bertemu di satu tempat. Mereka mengenakan satu pakaian dan menyembah satu Robb dalam satu waktu. Tidak ada perbedaan antara pemimpin dan yang dipimpin, kaya maupun miskin, kulit putih maupun kulit hitam. Semua merupakan makhluk dan hamba Allah. Sehingga kaum muslimin dapat bertaaruf (saling kenal) dan taawun (saling tolong menolong). Mereka sama-sama mengingat pada hari Allah membangkitkan mereka semuanya dan mengumpulkan mereka dalam satu tempat untuk diadakan hisab (penghitungan amal) sehingga mereka mengadakan persiapan untuk kehidupan setelah mati dengan mengerjakan ketaatan kepada Allah ta’ala.
   Maksud disyariatkannya thowaf disekeliling Ka’bah (kiblat kaum muslimin) yang Allah perintahkan mereka untuk menghadap kepadanya setiap kali sholat di mana saja mereka berada. Dan maksud adanya wukuf di beberapa tempat lain di Mekkah pada waktu-waktunya yang telah ditentukan seperti Arafat, Muzdalifah dan tinggal di Mina. Maksud dari semua itu adalah beribadah kepada Allah ta’ala di tempat-tempat yang disucikan itu sesuai kondisi yang diperintahkan oleh Allah.
   Adapun ka’bah itu sendiri dan tempat-tempat tersebut serta semua makhluk maka tidak boleh diibadahi, tidak dapat mendatangkan manfaat dan madharat. Namun ibadah itu hanyalah untuk Allah semata. Yang dapat mendatangkan manfaat dan madharat hanyalah Allah semata. Sekiranya Allah tidak memerintahkan untuk haji ke Baitullah niscaya tidak dibenarkan seorang muslim melakukan ibadah haji!. Sebab ibadah itu bukan dengan akal pikiran dan hawa nafsu. Namun ia merupakan kewajiban yang Allah perintahkan dalam kitab-Nya maupun dalam sunnah Rasul-Nya saw. Allah ta’ala berfirman :

]وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ[(آل عمران: من الآية97)

“dan untuk Alloh wajib atas manusia berhaji ke Rumah Alloh bagi yang mampu perjalanannya, dan siapa yang kafir maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya dari sekalian alam” Ali Imran : 97     
   Ibadah umrah itu wajib bagi seorang muslim sekali dalam seumur hidup sama saja apakah dikerjakan bersamaan haji atau pada waktu kapan saja. Ziarah ke masjid nabi saw di Madinah bukanlah wajib bersamaan dengan haji maupun pada waktu kapan saja. Namun hukumnya sekedar mustahab (dianjurkan) dimana pelakunya diberi pahala dan yang meninggalkannnya tidak akan diberi hukuman. Adapun hadits yang berbunyi :
من حج فلم يزرني فقد جفاني

 “barangsiapa haji namun tidak berziarah kepadaku maka ia telah menjauh dariku” itu tidak benar bahkan hadits tersebut didustakan atas nama Rasul saw. 
   Sedang ziarah yang disyariatkan yang karenanya boleh dilakukan hanyalah ziarah ke masjid. Jika seorang yang berzaiarah telah sampai ke masjid dan mengerjakan sholat tahiyatul masjid di dalamnya maka baru saat itu disunnahkan baginya untuk ziarah ke makam Nabi saw dan menyampaikan salam kepada beliau dengan mengucapkan : “Kesejahteraan senantiasa terlimpahkan kepada Engkau wahai Rasulullah” dengan penuh sopan santun, melirihkan suara serta tidak boleh meminta kepada beliau apapun. Akan tetapi sekedar  mengucapkan salam lalu pergi sebagaimana yang beliau perintahkan kepada umatnya dan sebagaimana pula yang dikerjakan oleh para sahabat –semoga Allah meridhoi mereka semua-.
   Adapun orang-orang yang berdiri di depan makam nabi saw dengan penuh khusyu’ sebagaimana mereka berdiri dalam sholat. Mereka meminta segala hajat mereka kepada beliau atau memohon bantuan kepada beliau ataupun menjadikan beliau sebagai penengah di hadapan Allah maka mereka itu orang-orang yang telah menyekutukan Allah ta’ala sedang Nabi berlepas diri dari mereka. Hendaknya setiap muslim hati-hati dari berbuat seperti itu terhadap Nabi saw maupun terhadap selain beliau. Kemudian setelah itu berziarah ke makam sahabat Abu Bakar dan Umar semoga Allah meridhoi keduanya. Kemudian berzaiarah ke kuburan Baqi dan makam syuhada’. Ziarah ke kuburan kaum muslimin yang disyariatkan yaitu ziarah dimana seorang yang datang mengucapkan salam kepada orang-orang yang meninggal, lalu mendoakan mereka kepada Allah dan mengingat mati setelah itu pergi.
   Inilah sifat haji dan umrah : Pertama-tama seorang yang hendak haji memilih harta yang baik lagi halal dan seorang muslim menjauhi pendapatan yang diharamkan. Sebab harta haram penyebab ditolaknya haji dan doa seseorang. Dalam sebuah hadits Rasul saw disebutkan :

كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به

 “Setiap daging yang tumbuh dari harta haram maka neraka lebih utama untuknya”. Kemudian memilih rekan pendamping yang sholeh dari kalangan yang bertauhid benar dan beriman.

Miqat-miqat :
Jika telah sampai ke miqat maka memulai ihram dari situ manakala ia datang mengendarai mobil atau sejenisnya. Jika di dalam pesawat terbang maka ia memulai ihram manakala telah mendekat dari miqat sebelum melewatinya.  Beberapa miqat yang Nabi saw memerintahkan manusia untuk berihram dari situ ada lima. Yaitu :
1-Dzul Hulaifah (Abyar Ali) bagi penduduk Madinah.
2-Juhfah (dekat Rabigh) bagi penduduk Syam, Mesir dan Maghrib (Maroko)
3-Qornul Manazil (Sail atau Wadi Muhrim) bagi penduduk Najd, Thoif dan siapa saja yang datang melewati arah sana.
4-Dzati ‘Irq bagi penduduk Iraq
5-Yalamlam bagi penduduk Yaman.
Barangsiapa melewati miqat-miqat ini selain dari penduduknya maka tempat tersebut menjadi miqatnya dimana ia berihram darinya. Penduduk Mekkah yang tempat tinggal mereka sebelum miqat berihram dari rumah masing-masing.
Sifat ihram : Disunnahkan membersihkan diri, bersuci dan memakai wewangian sebelum berihram. Kemudian mengenakan pakaian ihram di miqat. Orang yang mengendarai pesawat terbang bersiap-siap dari negaranya lalu memulai berniat dan bertalbiyah jika mendakati miqat atau sejajar dengannya. Pakaian ihram bagi laki-laki adalah sarung dan selendang tanpa dijahit untuk dikenakan pada tubuhnya dan tidak menutupi kepalanya. Sedang wanita tidak ada pakaian khusus untuk ihramnya. Hanya saja wanita selamanya wajib mengenakan pakaian luas lagi menutup seluruh tubuhnya yang tidak sampai menimbulkan fitnah dalam kondisi apapun ketika terlihat oleh manusia. Jika telah berihram ia tidak boleh mengenakan sesuatu berjahit pada muka dan kedua tapak tangannya seperti penutup muka dan kaos tangan. Namun jika melihat laki-laki ia harus menutup mukanya dengan ujung selendang yang ada di kepalanya sebagaimana yang diperbuat ummahatul mukminin (istri-istri nabi) dan istri-istri para sahabat Rasul saw.
Kemudian setelah seorang haji mengenakan pakaian ihram ia berniat dalam hatinya untuk umrah kemudian mengucapkannya dalam talbiyah seraya berkata: “Allahumma Labbaika Umratan” dan bertamattu’ hingga haji. Tamattu’ inilah yang paling utama karena Rasul saw memerintahkan dan menekankannya kepada para sahabat beliau. Dan beliau marah terhadap orang yang bimbang dalam melaksanakan perintahnya. Kecuali bagi yang membawa hady (binatang kurban) maka ia mengerjakan qiron sebagaimana yang Nabi saw lakukan. Orang yang berhaji Qiron yaitu orang yang mengucapkan dalam talbiyahnya “Allahumma labbaika umratan wa hajjan” dan tidak melapaskan ihrmanya hingga menyembelih binatang kurbannya pada hari Iedul kurban. Sedang orang yang berhaji Ifrod berniat haji saja dengan mengucapkan : “Alahumma labbaika hajjan”

Hal-hal yang dilarang bagi seorang yang ihram:
Jika seorang muslim telah meniatkan ihram maka haram baginya :
1-Jima’ dan hal-hal yang bisa mendorong ke sana seperti mencium, memegang disertai syahwat, membicarakan hal itu, melamar wanita, mengadakan akad nikah. Seorang yang ihram tidak boleh menikah maupun dinikahkan.    
2-Mencukur rambut atau mengambilnya.
2-Memotong kuku
3-Menutup kepala bagi laki-laki dengan sesuatu yang menempel. Adapun bernaung dengan payung, kemah dan mobil maka tidak mengapa.
4-Memakai wewangian atau mencium wewangian.
5-Berburu binatang darat. Tidak memburunya maupun menunjukkannya.
6-Laki-laki mengenakan sesuatu yang berjahit dan wanita menganakan sesuatu yang berjahit untuk muka dan kedua tapak tangannya. Laki-laki boleh mengenakan sandal jika memang tidak mendapati sandal boleh mengenakan sepatu khuf (bot). Jika mengerjakan sesuatu dari larangan-larangan ini karena tidak tahu atau lupa maka segera melepaskanya dan tidak ada dosa baginya.
Jika seorang yang berihram telah sampai ke Ka’bah maka ia melakukan thowaf qudum sebanyak 7 putaran. Mulai dari garis lurus hajar aswad. Ini sekaligus merupakan thowaf umrahnya. Dan thowaf tidak mempunyai doa khusus tetapi ia berdzikir kepada Allah dan berdoa dengan sebisanya. Kemudian setelah itu mengerjakan sholat dua rokaat thowaf dibelakang maqam jika memungkinkan. Kalaupun tidak memungkinkan maka di bagian mana saja dari Haram. Kemudian setelah itu keluar ke tempat sa’i. Dimulai dari Shofa dengan mendakinya  lalu menghadap ke kiblat, mengucapkan takbir dan tahlil serta berdoa. Kemudian berjalan ke Marwa dengan mendaki bukit Marwa, menghadap ke kiblat, bertakbir, berdzilir kepada Allah dan berdoa. Kemudian kembali ke Shofa hingga genap 7 putaran. Perginya dihitung sekali dan pulangnya sekali. Kemudian setelah itu memendekkan rambut kepalanya. Sedang wanita mengambil dari seluruh ujung rambutnya seukuran ujung jarinya. Dengan ini selesai sudah orang yang berhaji tamattu’ dari umrahnya dan ia bertahallul dari umrahnya (melepas kain ihramnya). Semua yang diharamkan baginya ketika ihram telah halal.
Jika seorang wanita mengalami haidh atau melahirkan sebelum ihram atau sesudahnya maka ia berubah menjadi haji qorin. Mengucapkan talbiyah dengan umrah dan haji setelah berniat ihram  sebagaimana para haji yang lain. Karena haidh dan nifas tidak mencegah dari ihram maupun wukuf di tempat-tempat masya’ir. Namun keduanya hanya mencegah thowaf di Bait saja. Sehingga ia boleh berbuat semua yang diperbuat para haji kecuali thowaf. Ia menunda dulu thowaf ini hingga mengalami suci. Jika ternyata telah suci sebelum manusia melakukan ihram untuk haji dan keluar ke Mina maka ia mandi, mengerjakan thowaf, sai, memendakan rambut kepalanya serta bertahallul dari ihram umrahnya. Kemudian berihram bersama-sama manusia untuk haji jika mereka mengerjakan ihram pada hari kedelapan (Dzulhijjah). Jika manusia berihram untuk haji sebelum ia suci maka ia menjadi haji Qorin. Mengucapkan talbiyah bersama mereka dalam keadaan ihramnya. Mengerjakan semua yang dikerjakan para haji dari keluar ke Mina, wukuf di Arafah dan Muzdalifah, melontar jumrah, menyembelih kurban dan memendakkan rambut kepalanya pada hari ied kurban. Jika telah suci maka ia mandi, mengerjakan thowaf haji dan sai haji.
Thowaf dan sai ini sudah cukup untuk haji dan umrahnya sebagaimana yang dialami Aisyah Ummul mukminin radhiyallahu anha dan Nabi saw memberitahukannya bahwa thowaf dan sainya setelah suci sudah cukup untuk haji dan umrahnya ketika ia telah mengerjakan thowaf ifadhoh bersama-sama manusia dan sai. Sebab orang yang berhaji Qorin (menggabung) antara umrah dan hajinya seperti orang  berhaji Ifrad dimana hanya wajib satu thowaf  dan satu sai saja berdasarkan keterangan Rasul saw kepada Aisyah mengenai hal itu dan berdasarkan perbuatan dan sabda beliau dalam hadits lain yang berbunyi:

دخلت العمرة في الحج إلى يوم القيامة

“umrah masuk pada haji hingga hari Kiamat”. Wallahu A’lam.
Jika telah masuk hari kedelapan dari bulan Dzulhijjah para haji berihram untuk haji dari tempat tinggal masing-masing di Mekkah sebagaimana mereka berihram dari miqat. Yaitu bersih-bersih diri kemudian mengenakan pakaian ihram lalu orang haji baik laki maupun wanita beniat untuk haji kemudian mengucapkannya : Allahumma Labbaika hajjan berikut menjauhi seluruh larangan-larangan ihram yang lalu hingga ia kembali dari Muzdalifah menuju Mina pada hari kurban, melontar jumrah Aqobah lalu laki-laki mencukur rambut kepalanya sedang wanita memendakkannya.
Jika seorang yang haji telah berihram pada hari kedelapan, maka ia keluar bersama-sama para haji lain ke Mina untuk bermalam di sana dan mengerjakan setiap sholat pada waktunya secara qoshor tanpa dijama’. Jika matahari telah terbit pada hari Arafah ia bersama-sama para haji lain berangkat menuju Namiroh untuk duduk di sana hingga mengerjakan sholat Dhuhur dan Asar bersama imam secara jama’ qoshor ataupun sholat di tempat ia ada secara berjamaah. Kemudian setelah matahari tergelincir ia menuju Arafah. Sekiranya ia dari Mina langsung menuju Arofah dan duduk di sana juga boleh. Dan Arofah seluruhnya tempat wukuf.
Orang yang haji saat di Arofah memperbanyak dzikir kepada Allah ta’ala, doa dan istighfar dengan menghadap ke kiblat dan bukan ke jabal (gunung). Sebab gunung tidak lain hanyalah bagian dari Arofah. Tidak dibenarkan mendaki ke sana dengan niat ibadah. Dan tidak boleh mengusap bebatuannya karena ini merupakan bid’ah yang diharamkan.
Orang haji tidak boleh meninggalkan Arofah hingga matahari terbenam. Kemudian setelah terbenamnya matahari semua jamaah haji berangkat menuju Muzdalifah. Jika telah sampai di Muzdalifah maka jamaah haji mengerjakan sholat maghrib dan Isya secara jama’ ta’khir dan mengqoshor Isya’ lalu mabit (bermalam) di sana. Jika fajar telah terbit mereka segera mengerjakan sholat subuh dan berdzikir kepada Allah. Kemudian berangkat menuju ke Mina sebelum terbit matahari. Jika telah sampai ke Mina lalu melontar Jumrah Aqobah setelah terbit matahari dengan tujuh kerikil seukuran kacang Hims tidak besar dan tidak terlalu kecil. Tidak boleh melontar jumrah dengan sandal sebab hal ini merupakan main-main yang sengaja dibuat tampak baik oleh syaitan. Sedang membuat setan marah adalah dengan cara mengikuti perintah dan petunjuk Rasul saw berikut meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian usai melontar jamaah haji  menyembelih kurban lalu mecukur kepalanya. Sedang wanita memendekkannya. Jika laki-laki hanya memendekkan rambutnya itupun boleh. Akan tetapi mencukur lebih utama tiga kali lipat. Kemudian ia boleh mengenakan pakaiannya dan telah halal baginya semua yang diharamkan ketika ihram kecuali perkara wanita. Kemudian ia menuju ke Mekkah dan melakukan Thowaf haji dan sai. Dengan ini maka telah halal baginya semua hal hingga istri. Kemudian kembali ke Mina dan tinggal di sana pada hari Ied dan dua hari sesudahnya dan bermalam di Mina karena hukumnya wajib. Lalu melontar tiga jumrah pada hari sebelas dan duabelas setelah waktu zawal (matahari tergelincir). Dimulai dari jumrah shughra (terkecil) yang dekat Mina lalu Wustha (tengah) lalu jumrah Aqobah yang dilontari pada hari Ied. Masing-masing dilontari dengan tujuh kerikil. Disertai takbir setiap melontar satu kerikil. Kerikil-kerikil jumrah diambil dari tempat tinggalnya di Mina. Barangsiapa tidak mendapatkan tempat di Mina ia boleh tinggal di tempat berakhirnya kemah.
Jika hendak meninggalkan Mina setelah melontar pada hari kedua belas maka hal itu boleh baginya. Dan sekiranya ia menunda hingga hari ketiga belas maka itu lebih utama dan ia melontar setelah waktu zawal. Jika hendak pulang maka ia melakukan thowaf wada’ (perpisahan) di Bait. Kemudian usai dari thowaf langsung pulang. Wanita haidh dan nifas jika memang telah mengerjakan thowaf haji dan sai maka tidak wajib baginya thowaf wada’.
Sekiranya seorang haji menunda menyembelih hady (kurban) hingga hari kesebelas atau keduabelas maka boleh saja. Dan sekiranya ia menunda thowaf haji dan sai hingga meninggalkan Mina itupun juga boleh. Akan tetapi yang lebih utama sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Wallahu A’lam. Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad dan keluarganya.     

IMAN
Allah ta’ala telah mewajibkan atas seorang muslim selain beriman kepada-Nya juga untuk beriman kepada Rasul-Nya dan rukun-rukun Islam. Allah mewajibkan atasnya beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya yang Dia turunkan kepada para Rasul-Nya serta yang Dia tutup dengan Al Qur’an. Dengan Al Qur’an Allah telah menghapus kitab-kitab tadi dan menjadikan Al Qur’an sebagai pemelihara semua kitab-kitab tersebut. Juga mewajibkan beriman kepada rasul-rasul Allah dari yang pertama hingga paling akhir yaitu Muhammad saw sebab risalah (misi) mereka satu dan agama mereka satu yaitu Islam. Dan yang mengutus merekapun satu yaitu Allah Robb semesta alam. Seorang muslim wajib beriman kepada para Rasul yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an sebagai rasul-rasul Allah kepada umat-umat dahulu. Dan wajib beriman kepada Muhammad sebagai penutup para rasul sekaligus rasul (utusan) Allah kepada seluruh manusia dan manusia setelah diutuskan-Nya beliau semuanya sebagai umatnya hingga orang yahudi dan nasrani dan pemeluk agama-agama yang lain selain mereka. Karena semua orang yang ada di muka bumi merupakan umat Muhammad yang mendapatkan keharusan dari Allah untuk mengikutinya.
Musa, Isa dan seluruh para rasul berlepas diri dari siapa saja yang tidak mau mengikuti Muhammad dan tidak mau masuk Islam. Karena seorang yang muslim mengimani seluruh rasul sekaligus pengikut mereka. Sedang siapa yang tidak beriman kepada Muhammad dan mengikutinya serta tidak mau masuk Islam berarti ia kafir terhadap seluruh rasul dan mendustakan mereka kendati ia mengaku pengikut salah seorang dari rasul-rasul itu. Dalil-dalil dari firman Allah mengenai hal itu telah disebutkan pada bab kedua. Rasul saw bersabda dalam haditsnya :

والذي نفسي بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي أو نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أهل النار رواه مسلم

 “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya tidak ada seorangpun  dari umat ini baik yahudi maupun nasrani yang mendengar tentang diriku lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang saya diutus untuk membawanya melainkan ia dari penghuni neraka” Diriwayatkan oleh Muslim.
Selain itu seorang muslim wajib beriman kepada adanya kebangkitan setelah mati, hisab (penghitungan amal), pembalasan, surga dan neraka. Demikian pula ia wajib beriman kepada taqdir Allah ta’ala.





Makna iman kepada taqdir :
Seorang muslim meyakini bahwa Allah ta’ala telah mengetahui segala sesuatu dan mengetahui semua perbuatan hamba sebelum diciptakan-Nya langit dan bumi. Lalu Allah menulis ilmu itu di Lauh mahfudz di sisi-Nya. Seorang muslim sadar bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Ia sadar bahwa Allah ta’ala menciptakan hamba dalam rangka mentaati-Nya dan telah Allah terangkan hal itu kepada mereka. Allah perintahkan hal itu kepada mereka dan melarang mereka bermaksiat kepada-Nya. Allah juga  menerangkan kepada mereka bahwa Dia telah menciptakan bagi mereka qudrah (kemampuan) dan masyiah (kehendak) yang menjadikan mereka mampu untuk menjalankan perintah-perintah Allah sehingga mereka dapat memperoleh pahala sekaligus mampu mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah sehingga mereka berhak mendapat siksa.
Masyiah (kehendak) hamba mengikut masyiah (kehendak) Allah ta’ala. Adapun taqdir yang Allah tidak mengadakan bagi hamba-Nya kehendak dan ikhtiyar (kemauan sendiri) dalam taqdir tersebut namun Allah memberlakukannya kepada hamba kendati ada irodah (kemauan) dari mereka seperti misalnya kesalahan tak sengaja, lupa dan apa yang mereka dipaksa melakukannya, juga seperti kefaqiran, sakit dan musibah serta semisalnya maka Allah tidak akan memperhitungkan ataupun menjatuhkan hukuman kepada manusia berdasarkan hal itu. Bahkan Allah akan mengganjarnya dengan pahala besa atas musibah yang menimpa, kefaqiran dan sakit jika ia sabar dan ridho dengan taqdir Allah. Semua yang telah diterangkan ini wajib bagi seorang muslim mengimaninya.
Kaum muslimin yang paling besar keimanannya kepada Allah, paling dekat kepada-Nya serta paling tinggi derajatnya di surga adalah kaum muhsinin (orang-orang yang berbuat ihsan/kebajikan), yaitu mereka yang beribadah kepada Allah, mengagungkan-Nya serta khusyu’ di hadapan-Nya seakan-akan mereka melihat-Nya. Mereka tidak bermaksiat kepada Allah baik ketika sendirian maupun dalam keramaian. Mereka meyakini bahwa Allah melihat mereka dimanapun mereka berada dan tidak ada sedikitpun dari perbuatan, perkataan dan niat mereka yang tersembunyi dari Allah. Sehingga mereka menaati perintah-Nya dan meninggalkan perbuatan maksiat kepada-Nya. Jika satu kesalahan (yang menyelisihi perintah Allah) menimpa salah seorang mereka, maka ia segera bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh, menyesali kesalahannya lalu meminta ampun kepada Allah dan tidak mengulanginya kembali. Allah ta’ala berfirman :

]إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ[ (النحل:128)
 “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)” (Surat An nahl : 128)

Kesempurnaan Din Islam :

Allah ta’ala berfirman :

] الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً [(المائدة: من الآية3)

 “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Aku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu” (Al Maidah : 3)

Allah ta’ala berfirman :

]إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً[ (الاسراء:9)
 “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukimin  yang mengerjakan amal sholeh  bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al Isra : 9)

Allah ta’ala berfirman :

] وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ[(النحل: من الآية89)

 “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (An Nahl : 89)
Dalam hadits shahih, Nabi saw bersabda :

تركتكم على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيع عنها إلا هالك

 “ Aku tinggalkan kalian di atas mihjah putih, malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali binasa”. Beliau juga bersabda :

تركت فيكم ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا أبداً كتاب الله وسنتي

 “Aku tinggalkan pada kalian (sesuatu) yang jika kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat selamanya; kitabullah dan sunnahku”.
Pada ayat pertama Allah ta’ala memberitahukan bahwa Allah telah menyempurnakan bagi kaum muslimin agama Islam mereka. Sehingga tidak ada kekurangan didalamnya selamanya dan tidak membutuhkan tambahan selamanya. Ia senantiasa relevan untuk setiap zaman, tempat serta umat manusia. Allah mengabarkan bahwa Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kaum muslimin dengan agama yang agung, sempurna nan penuh toleran ini, dan dengan risalah penutup rasul-rasul Muhammad saw serta dengan keunggulan Islam berikut kemenangan pemeluknya atas orang yang memusuhi mereka. Allah mengabarkan bahwa Dia telah meridhoi Islam sebagai agama bagi manusia. Sehingga Allah tidak akan memurkainya selamanya dan tidak akan menerima dari siapapun suatu agama selain Islam selamanya.
Pada ayat kedua Allah ta’ala memberitahukan bahwa Al Qur’an yang agung merupakan manhaj (konsep hidup) yang sempurna didalamnya terdapat penjelasan yang benar lagi integral terhadap semua perkara agama dan dunia. Tidak ada di sana satu kebaikan pun melainkan Islam telah  menunjukkannya dan tidak ada satu keburukanpun melainkan Islam telah memberikan warning (peringatan) darinya. Segala persoalan dan perkara pelik yang dulu, sekarang maupun yang akan datang maka solusinya yang benar lagi penuh adil telah ada di dalam Al Qur’an. Sedang setiap solusi yang diberikan untuk persoalan itu menyelisihi solusi Al Qur’an maka itu merupakan tindakan bodoh lagi zalim.
Oleh karena itu ilmu, aqidah, politik, aturan hukum dan peradilan, ilmu psikologi, sosial, ekonomi, aturan pidana serta perkara lainnya yang dibutuhkan manusia. Semua itu telah Allah terangkan di dalam Al Qur’an dan melalui lisan Rasul-Nya Muhammad saw dengan penjelasan yang begitu gamblang sebagaimana hal itu telah Allah khabarkan pada ayat yang telah disebutkan tadi dimana Dia mengkabarkan bahwa “Al Qur’an itu untuk menjelaskan segala sesuatu”. Pada bab berikut ini akan dijelaskan secara rinci namun singkat tentang kesempurnaan agama Islam dan tentang konsep Islam yang integral, universal dan lurus.






BAB KEEMPAT
Konsep Islam

Pertama, Konsep Islam Mengenai Ilmu Pengetahuan
Kewajiban pertama yang Allah perintahkan kepada manusia adalah mempelajari ilmu. Allah ta’ala berfirman :

]فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ[ (محمد:19)

“Maka ketahuilah (dapatkanlah ilmu), bahwa sesungguhnya tidak ada ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, lai-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu” (Muhammad : 19)

Allah ta’ala berfirman :

] يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ[(المجادلة: من الآية11)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al Mujadilah : 11)  
 
Allah ta’ala berfirman :

] وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً[(طـه: من الآية114)

 “ Dan kataknlah: “Ya Robbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (Toha : 114)
Allah ta’ala berfirman :

] فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ[(النحل: من الآية43)

 “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (An Nahl : 43)

Nabi Muhammad saw bersabda dalam hadits shahih:

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” Beliau bersabda:

فضل العالم على الجاهل كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب
 
“Keutamaan seorang alim (berilmu) atas orang bodoh bagaikan keutamaan rembulan di malam purnama atas seluruh bintang-bintang”
Ilmu pengetahuan di dalam Islam terbagi menjadi beberapa bagian dari aspek kewajibannya;
Pertama; kewajiban yang musti diketahui setiap orang baik laki atau perempuan (fardhu ‘ain). Tidak ada seorangpun boleh beralasan tidak tahu, yaitu ma’rifatullah (mengenal Allah), mengenal Rasul-Nya Muhammad saw dan mengenal ajaran agama Islam yang musti dilakukan.
Kedua; fardhu kifayah dimana jika telah dikerjakan oleh orang yang sudah mencukupi maka dosanya gugur atas yang lain. Lalu terhadap yang lain hal itu hukumnya menjadi mustahab (dianjurkan) bukan wajib. Yaitu pengetahuan mengenai hukum-hukum syariat Islam yang mengkader orangnya untuk dapat mengkajikan kepada orang lain, menangani peradilan dan mengeluarkan fatwa. Demikian pula pengetahuan tentang hal-hal yang dibutuhkan kaum muslimin berupa berbagai karya cipta dan profesi-profesi yang menjadi kemestian untuk urusan kehidupan mereka.

Kedua, Konsep Islam Mengenai Persoalan Aqidah (Keyakinan)

Allah ta’ala memerintahkan Rasul-Nya Muhammad untuk mengumumkan ke seluruh khalayak manusia bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah semata. Mereka wajib beribadah kepada-Nya semata. Allah memerintahkan mereka untuk mengadakan interaksi kepada Allah secara langsung tanpa perantara dalam persoalan ibadah mereka kepada Allah. Sebagaimana hal itu telah dijelaskan pada makna ‘la ilaaha illallah. Allah memerintahkan mereka untuk bertawakal kepada-Nya semata. Tidak perlu takut melainkan kepada Allah dan tidak menggantungkan harapan melainkan kepada-Nya semata. Karena Dialah satu-satunya Yang dapat memberikan manfaat dan madharat. Serta supaya mereka mensifati Allah dengan sifat-sifat sempurna yang Dia sifatkan untuk diri-Nya maupun yang disifatkan oleh Rasul-Nya sebagaimana telah dijelaskan lebih dahulu.

Ketiga, Konsep Islam Mengenai Interaksi Antara Manusia.

Allah memerintahkan seorang muslim untuk menjadi manusia sholeh yang berupaya untuk menyelamatkan umat manusia dari kegelapan kekufuran menuju cahaya Islam. Oleh karena inilah saya mencoba mengarang buku ini dan menyebarkannya dalam rengka menjalankan sebagian kewajiban.
Allah memerintahkan supaya ikatan yang menyambungkan antara seorang muslim dengan lainnya hanyalah ikatan iman kepada Allah. Sehingga ia akan mencintai hamba-hamba Allah yang sholeh lagi taat kepada Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu orang terjauh  dan membenci orang-orang yang kafir kepada Allah dan orang-orang yang membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu orang terdekat Inilah ikatan yang menghimpun antara dua pihak dan menyatukan antara dua sisi dimana amat berbeda dengan ikatan keturunan, tanah air dan kepentingan-kepentingan materialistik karena semua itu akan cepat memudar.
Allah ta’ala berfirman :

]لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْأِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[ (المجادلة:22)
 “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (Al Mujadilah : 22)

Allah ta’ala berfirman :

] إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ[(الحجرات: من الآية13)

 “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu” (Al Hujurat : 13)

Pada ayat pertama, Allah ta’ala mengabarkan bahwa seorang yang beriman kepada Allah tidak akan mencintai musuh-musuh Allah sekalipun mereka itu manusia terdekat. Dan Allah mengabarkan pada ayat kedua bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah lagi dicintai-Nya ialah orang yang taat kepada-Nya entah dari warga negara mana saja dan dari warna kulit apa saja.
Allah ta’ala telah memerintahkan untuk bersikap adil terhadap musuh maupun kawan. Dia mengharamkan kezaliman atas diri-Nya lalu menjadikan kezaliman itu haram diantara hamba-hamba-Nya. Dia memerintahkan sikap amanah serta jujur dan mengharamkan khianat. Memerintahkan berbakti kepada kedua orang tua, menyambung hubungan kekerabatan, berbuat kebajikan kepada kaum fakir dan terlibat dalam amal-amal sosial kebaikan. Allah juga memerintahkan berbuat baik terhadap semua hal hingga kepada binatangpun. Dia mengaharamkan menyiksa binatang bahkan memerintahkan berbuat baik kepadanya. Adapun binatang-binatang membahayakan seperti anjing galak, ular, kalajengking, tikus,… dan cicak maka semua itu boleh dibunuh untuk mencegah keburukan yang ditimbulkannya namun tidak boleh disiksa.

Keempat, Konsep Islam Mengenai Sikap Muroqobah dan Wejangan Hati Bagi Orang Mukmin

Banyak ayat-ayat di dalam Al Qur’an Al Karim yang menerangkan manusia bahwa Allah itu melihat mereka dimanapun mereka berada. Dia mengetahui seluruh amal perbuatan mereka dan mengetahui niat yang terlintas dalam hati mereka. Allah mengawasi semua gerak gerik dan perkataan mereka. Sedang malaikat yang menyertai mereka menulis semua yang muncul dari mereka baik ketika sendirian maupun dalam keramaian. Allah akan menghisab mereka atas segala yang mereka perbuat dan ucapkan. Dia telah memperingatkan mereka akan siksa-Nya yang pedih jika mereka bermaksiyat kepada-Nya dalam kehidupan ini dan menyelisihi perintah-Nya. Sehingga hal itu menjadi peringatan keras bagi orang-orang yang beriman kepada Allah yang mencegah mereka terjerumus dalam berbuat maksiat kepada-Nya. Lalu mereka meninggalkan semua perbuatan jahat dan dosa karena rasa takut kepada Allah ta’ala.
Adapun orang yang tidak takut kepada Allah dan mengerjakan berbagai pebuatan maksiat jika mampu ia kerjakan maka Allah telah menjadikan baginya had (batasan) yang mencegahnya dalam kehidupan ini. Yaitu; perintah Allah kepada kaum muslimin untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kebajikan dan mencegah kemungkaran). Sehingga dengan demikian setiap muslim merasa bertanggung jawab di hadapan Allah atas setiap perbuatan salah (dosa) yang dilihatnya dikerjakan orang lain sampai ia mencegahnya dari melakukan perbuatan tersebut dengan lisannya jika tidak mampu mencegah dengan tangannya. Allah juga memerintahkan pemimpin kaum muslimin untuk menegakkan hukum had-had Allah terhadap pelaku kesalahan. Yaitu hukuman-hukuman yang dijatuhkan sesuai kejahatan yang dilakukan pelakunya yang telah Allah terangkan dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam hadits-haditsnya dan memerintahkan untuk diterapkan bagi para pelaku kejahatan. Dengan ini akan tersebar keadilan, ras aman dan sentosa.  

Kelima, Konsep Islam Mengenai Sikap Menanggung Beban Bersama dan Gotong Royong Sosial.

Allah ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk kerja sama dan tolong menolong sesama mereka dalam hal moril maupun materil sebagaimana hal itu telah dijelaskan pada bab zakat dan shodaqah. Allah ta’ala mengharamkan seorang muslim menyakiti manusia dalam bentuk apapun. Hingga gangguan di jalan itupun Allah mengaharamkannya dan memerintahkan seorang muslim untuk menghilangkannya jika ia lihat sekalipun yang meletakkanya orang lain dan menjanjikan baginya pahala atas perbuatan itu sebagaimana Dia memberi ancaman siksa bagi yang melakukan gangguan itu.
Allah mewajibkan orang mukmin mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dan membenci bagi saudaranya apa yang dia benci untuk dirinya. Allah ta’ala berfirman :

] وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ [(المائدة: من الآية2)

“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (Al Maidah : 2)

Allah berfirman :

]إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ [(الحجرات: من الآية10)

 “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (Al Hujurat : 10)

Allah berfirman :

]لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً[ (النساء:114)
 “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka , kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (An Nisa : 114) 

Rasulullah saw bersabda :

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه رواه مسلم

 “Tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” Diriwayatkan oleh Muslim.
Beliau bersabda pada khutbahnya yang agung yang beliau sampaikan di akhir hayatnya ketika haji wada’ dalam rangka menegaskan kembali apa yang pernah beliau perintahkan sebelumnya :

يآأيها الناس إن ربكم واحد، وأباكم واحد، ألا لافضل لعربي على عجمي ، ولا لأسود على أحمر ولا لأحمر على أسود إلا بالتقوى، أبلغت؟ قالوا أبلغ رسول الله .

“Wahai manusia, sesungguhnya Robb kalian adalah satu, bapak kalian adalah satu. Ketahuilah tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas non Arab ataupun non Arab atas orang Arab. Dan tidak ada kelebihan orang kulit hitam atas kulit merah maupun kulit merah atas kulit hitam melainkan dengan taqwa. Sudahkah aku sampaikan? Para sahabat mennyahut: “Rasulullah benar telah menyampaikan”.  

Beliau juga bersabda :

إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا وفي بلدكم هذا ألا هل بلغت قالوا نعم، فرفع أصبعه إلى السماء ، وقال اللهم اشهد.

 “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana kehormatan hari kalian ini pada bulan kalian ini dan pada negri kalian ini. Sudahkah Aku sampaikan?” Para menyahut : “Ya”. Lalu beliau mengangkat jari-jarinya ke langit seraya bersabda : “Ya Allah saksikanlah”.



Keenam, Konsep Islam Mengenai Politik Dalam Negri
Allah memerintahkan kaum muslimin mengangkat atas mereka seorang imam yang mereka baiat untuk memangku jabatan kepemimpinan. Allah memerintahkan mereka untuk bersatu dan tidak berpecah belah sehingga mereka menjadi satu umat. Allah memerintahkan mereka menaati imam dan pemimpin-pemimpin mereka kecuali jika mereka memerintah untuk berbuat maksiat kepada Allah maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Kholiq. 
Allah memerintahkan orang muslim jika berada dalam suatu negara yang ia tidak mampu di sana menampakkan agama Islam dan mendakwahkannya. Allah memerintahkannya untuk hijrah dari negri tersebut menuju negara Islam, yaitu negara yang didalamnya diterapkan syariah Islam pada seluruh aspek dan dipimpin oleh seorang imam muslim yang memberlakukan hukum dengan apa yang Allah turunkan.
Untuk itu Islam tidak mengenal batas-batas wilayah geografis, jenis kewarganegaraan maupun kebangsaan. Akan tetapi kewarganegaraan seorang muslim hanyalah Islam. Semua manusia adalah hamba Allah. Dan bumi ini adalah bumi Allah dimana seorang muslim boleh berpindah-pindah tanpa ada yang merintangi dengan syarat ia komitmen terhadap syariat Allah. Jika ia menyelisihi syarat ini dalam suatu perkara maka diberlakukan padanya hukum Allah. Dengan menjalankan syariat Allah dan menegakkan hukum had-Nya maka akan diperoleh kembali rasa aman sentosa, kembalinya manusia pada tindakan lurus, terjaganya darah, selamatnya kehormatan dan harta mereka dan kebaikan semuanya. Sebagaimana kalau menyimpang dari syariat Islam ini yang ada hanyalah segala keburukan.
Allah ta’ala menjaga akal dengan mengharamkan hal-hal yang membuat mabuk, tidak sadar dan menghilangkan stamina. Dia tetapkan hukuman had bagi peminum minuman yang memabukkan, yaitu cambukkan sebanyak 40 hingga 80 kali setiap kali ia berbuat hal itu dalam rangka membuatnya jera, menjaga akalnya dan melindungi manusia dari kejahatannya. 
Allah juga menjaga darah kaum muslimin dengan ditetapkannya qishosh terhadap orang yang menyakiti tanpa alasan yang dibenarkan. Untuk itu pembunuh dihukum bunuh. Dan pada luka-luka itupun Allah  menetapkan hukuman qishosh sebagaimana Allah mensyariatkan bagi seorang muslim untuk mempertahankan diri, kehormatan dan hartanya. Allah ta’ala berfirman :

]وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[ (البقرة:179)
 “Dan dalam qishosh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa” (Al Baqarah : 179)

Rasulullah saw bersabda :

من قتل دون نفسه فهو شهيد، ومن قتل دون أهله فهو شهيد، ومن قتل دون ماله فهو شهيد
 “Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan jiwanya maka ia syahid, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka ia syahid dan barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid”
Allah juga menjaga kehormatan kaum muslimin dengan mengharamkan berbicara untuk menggunjing seorang muslim dengan pembicaraan yang tidak disukai saudara muslimnya itu melainkan dengan alasan yang dibenarkan. Demikian pula dengan hukuman had yang disyariatkan-Nya bagi orang yang melemparkan tuduhan terhadap seorang muslim dengan kejahatan sosial, misalnya zina dan homoseks tanpa dapat memberikan bukti yang bisa diterima syariat.
Allah juga menjaga keturunan dari campur silang seling yang tak dibenarkan syariat dan menjaga kehormatan dari ternodai oleh kejahatan sosial dengan mengharamkan zina secara keras dan menganggapnya termasuk dari dosa besar yang paling besar. Lalu Allah menetapkan hukuman keras bagi pelakunya jika syarat-syarat ditegakkannya hukuman had zina untuknya telah terpenuhi.
Allah juga menjaga harta dengan mengharamkan pencurian, curang, lotre, sogok dan pendapatan-pendapatan haram yang lainnya. Dan dengan menetapkan hukuman keras bagi pencuri dan perampok yaitu dipotong manakala syarat-syaratnya telah terpenuhi atau menimpakan hukuman yang dapat membuatnya jera jika syarat-syarat belum terpenuhi semua namun telah terbukti mencuri.
Yang menetapkan hukuman-hukuman had ini Dialah Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia Maha Mengetahui terhadap apa yang dapat membuat baik keadaan makhluk-Nya sedang kepada mereka Allah Maha Penyayang. Allah menjadikan hukuman-hukuman had ini sebagai kafarat (penebus) dosa para pelaku kejahatan dari kaum muslimin berikut sebagai bentuk perlidungan masyarakat dari kejahatan mereka maupun kejahatan yang lainnya. Sedang orang-orang yang mencela hukuman bunuh bagi pelaku pembunuhan dan hukuman potong tangan bagi pelaku pencurian dari kalangan musuh-musuh Islam itu bahwasanya mereka hanyalah mencela tidakan amputasi terhadap salah satu anggota tubuh yang berpenyakit lagi rusak yang jika tidak diamputasi kerusakannya akan menyebar ke seluruh anggota masyarakat. Namun pada saat yang sama mereka memandang baik tindakan membunuh orang-orang tak bersalah demi ambisi-ambisi mereka yang penuh kezaliman.  

Ketujuh, Konsep Islam Mengenai Politik Luar Negri.
Allah memerintahkan kaum muslimin dan para pemimpin mereka untuk menyeru orang-orang selain kaum muslimin kepada Islam dalam rangka menyelamatkan mereka dengan Islam dari kegelapan kekafiran menuju cahaya iman kepada Allah dan dari kesengsaraan tergenang dalam kehidupan dunia yang penuh matrealistik ini serta tidak diperolehnya kebahagiaan ruh yang benar-benar telah dinikmati oleh kaum muslimin.
Untuk itu Allah memerintahkan hal ini bagi seorang muslim. Yaitu; supaya ia menjadi seorang sholeh yang dapat bermanfaat bagi semua anak manusia dengan kesholehannya dan berusaha pula untuk menyelamatkan manusia seluruhnya. Berbeda dengan semua konsep buatan manusia dimana menuntut orang untuk menjadi warga negara yang baik, itu saja. Hal ini termasuk bukti akan kerusakan dan kekurangan konsep tersebut sekaligus bukti akan kebaikan dan kesempurnaan Islam.
Allah memerintahkan kaum muslimin mempersiapkan kekuatan yang mampu mereka lakukan guna menghadapi musuh-musuh Allah yang dengan kekuatan itu mereka dapat melindungi Islam dan kaum muslimin sekaligus membuat gentar musuh Allah dan musuh mereka. Sebagaimana Allah membolehkan kaum muslimin untuk mengadakan ikatan-ikatan perjanjian dengan orang non Islam jika persoalannya memang mendorong ke situ sesuai kaca mata syariat Islam. Allah mengharamkan kaum muslimin melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati bersama dengan musuh mereka kecuali jika musuh lebih dahulu melanggar ataupun melakukan perbuatan yang mengarah ke situ sehingga mereka tengah dirasa melakukan pelanggaran.
Sebelum mengawali peperangan dengan non Islam Allah memerintahkan kaum muslimin pertama-tama untuk menyeru musuh-musuh mereka supaya masuk Islam. Jika mereka menolak maka mereka diminta untuk membayar jizyah (upeti) dan tunduk terhadap hukum Allah. Jika mereka tetap menolak maka perang jalan penyelesaian hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya milik Allah.
Di tengah peperangan Allah mengharamkan kaum muslimin membunuh anak-anak, wanita, orang tua dan para pendeta yang tinggal di biara-biara mereka. Kecuali jika memang turut andil membantu pasukan musuh dalam bentuk pendapat maupun perbuatan. Allah memerintahkan kaum muslimin untuk memperlakukan para tawanan dengan cara baik. Dari sini kita dapat memahami bahwa tujuan perang yang diinginkan dalam Islam bukanlah untuk merebut kekuasaan dan penaklukan. Namun tujuan yang diinginkan dari perang ini hanyalah dalam rangka menyebarkan kebenaran, kasih sayang terhadap makhluk serta dalam rangka mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan kepada Allah sang Kholiq.

Kedelapan, Konsep Islam Mengenai Kebebasan.

A-Kebebasan berkeyakinan. Dalam agama Islam, Allah ta’ala memberikan kebebasan berkeyakinan bagi siapa yang masuk dibawah hukum Islam dari kalangan non muslim setelah sebelumnya diberikan kepadanya penjelasan secara gamblang mengenai Islam dan diseru untuk masuk Islam. Jika ia memilih Islam maka disitulah ia akan mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan dirinya. Namun jika ia memilih tetap meyakini agamanya berarti ia telah memilih bagi dirinya sendiri kekufuran, nasib celaka berikut azab neraka. Dengan demikian telah tegak atasnya hujjah dan tidak ada lagi baginya alasan di hadapan Allah ta’ala. Ketika itu kaum muslimin membiarkan ia berada pada akidahnya dengan syarat ia harus membayar jizyah (pajak) yang diserahkan langsung dengan tangannya dalam posisi hina, tunduk patuh di bawah hukum Islam dan tidak boleh menampakkan syiar-syiar kekufurannya di hadapan kaum muslimin.
Adapun seorang muslim maka setelah masuk Islam tidak diperkenankan lagi untuk murtad (kembali kepada kekafiran). Sekiranya ia murtad maka balasannya adalah dibunuh. Yang demikian itu disebabkan dengan sikap murtadnya dari kebenaran setelah mengetahuinya berarti ia tidak lagi layak untuk hidup. Kecuali jika ia bertaubat kepada Allah ta’ala dan kembali ke pangkuan Islam. Sekalipun murtadnya dengan melakukan salah satu yang membatalkan Islam maka ia harus bertaubat dari perbuatan yang membatalkan Islam tersebut dengan cara meninggalkannya disertai kebencian dan memohon ampun kepada Allah ta’ala.



Pembatal Keislaman itu Banyak. Diantaranya :

1-Syirik kepada Allah ta’ala. Yaitu seorang hamba menjadikan bersama Allah ilah (sesembahan) lain. Sekalipun itu hanya menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah supaya memohonkan kepada Allah dan mendekatkan kepada-Nya. Sama saja entah ia mengakui uluhiyah Allah (hanya Allah yang berhak disembah) secara nama dan makna dengan pengetahuannya akan makna ilah dan ibadah sebagaimana halnya kaum musyrikin zaman jahiliyah yang menyembah berhala-berhala sebagai lambang beberapa orang sholeh demi mencari syafaat mereka. Ataupun tidak mengakui adanya ilah disamping Allah dan peribadatannya kepada ilah tersebut berarti beribadah kepada Allah seperti halnya orang-orang musyrik yang menisbahkan dirinya pada Islam yang tidak menerima orang yang menyeru mereka kepada tauhid karena menyangka bahwa yang namanya syirik itu hanya sekedar dalam bentuk sujud kepada berhala saja. Ataupun selain itu seorang hamba mengatakan kepada sesuatu selain Allah: Inilah ilah (sesembahan) ku.
Mereka itu sama halnya dengan orang yang minum khomer dan menyebutnya dengan nama selain khomer. Kondisi mereka itu telah lalu dijelaskan. Allah berfirman :

] فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّينَ(2)أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ[(الزمر:3)
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingat, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):“ Kami tidak menyembah mereka  melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az Zumar : 2-3).

Allah ta’ala berfirman :
] ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ)13) إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ[ (فاطر:14)
“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Robbmu, kepunyaan-Nya kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikan mu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui” (Fathir : 13-14)
2-Tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik dan orang-orang kafir lainnya seperti yahudi, nasrani, orang-orang atheis, majusi serta para taghut yang menerapkan hukum dengan selain yang Allah turunkan dan tidak rela dengan hukum Allah. Maka siapa yang enggan mengkafirkan mereka setelah ia mengetahui mereka telah dinyatakan kafir oleh Allah berarti ia kafir.
3-Sihir yang mengakibatkan syirik besar. Maka siapa saja mengerjakan sihir atau rela dengan perbuatan sihir setelah mengetahui bahwa pelakunya itu kafir. Barangsiapa rela dengannya berarti ia kafir.
4-Meyakini bahwa syariat atau sistem selain Islam lebik baik daripada syariat Islam. Atau selain hukum Nabi saw lebih baik daripada hukumnya. Atau meyakini bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah.
5-Membenci Rasul saw atau sesuatu yang diketahui bahwa hal itu termasuk syariat beliau.
6-Memperolok-olok dengan sesuatu yang diketahui bahwa hal itu dari ajaran Islam.
7-Tidak senang dengan kemenangan Islam atau gembira dengan kemundurannya.
8-Memberikan wala’ (loyalitas) kepada orang kafir dengan mencintai dan menolong mereka sedangkan ia sadar bahwa orang yang loyal terhadap orang kafir berarti termasuk dari mereka.
9-Meyakini bahwa ia boleh keluar dari syariat Muhammad saw sedangkan ia sadar bahwa tidak ada seorangpun yang dibenarkan keluar dari syariat beliau dalam perkara apapun.
10-Berpaling dari agama Allah. Maka barangsiapa berpaling dari Islam setelah sebelumnya ia  diingatkan, tidak mau mempelajari dan mengamalkannya berarti ia kafir.
11-Mengingkari salah satu hukum Islam yang telah disepakati dan hukum semisalnya yang tidak mungkin tidak diketahui.
Dalil-dalil tentang pembatal-pembatal ini banyak sekali dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

B-Kebebasan berpendapat.
Allah memberikan kebebasan berpendapat dalam Islam dengan syarat pendapat tersebut tidak dibarengi dengan menafikan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu Allah memerintahkan seorang muslim untuk menyatakan kalimat kebenaran di hadapan siapa saja tanpa takut celaan orang yang mencela di jalan Allah dan menjadikan hal itu termasuk bentuk jihad paling utama. Allah memerintahkan seorang muslim untuk menasehati para pemimpin kaum muslimin dan mencegah mereka dari hal-hal yang dilarang. Allah juga memerintahkannya pula untuk membantah dan mencegah orang yang menyeru kepada kebathilan. Yang demikian ini merupakan aturan yang paling agung nan indah demi menghargai pendapat. Adapun pendapat yang menyelesihi syariat Allah maka orang yang melontarkannya tidak diperkenankan untuk menampakkan pendapatnya itu karena akan merusak dan memerangi kebenaran.

C-Kebebasan individu.
Allah memberikan dalam Islam kebebasan individu dalam batas-batas syariat Islam yang suci. Untuk itu Allah menjadikan bagi orang – laki maupun perempuan- kebebasan untuk melakukan interaksi dengan yang lain seperti jual beli, hibah, wakaf dan memaafkan. Berikut Allah memberikan kebebasan bagi setiap orang laki-laki dan wanita untuk memilih pasangan hidupnya. Masing-masing tidak boleh dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak disenanginya. Pada saat seorang wanita memilih lelaki yang tidak sepadan dengan agamanya maka tidak boleh merestuinya demi menjaga akidah dan kemuliannya. Larangan Ini demi kemaslahatan wanita tersebut dan keluarganya.
Wali seorang wanita (yaitu laki-laki yang terdekat dengannya secara nasab atau yang menjadi wakilnya), dialah yang mewakili akad nikahnya. Sebab seorang wanita tidak boleh menikahkah dirinya sendiri dikarenakan hal itu menyerupai wanita pelacur. Wali tadi mengatakan kepada calon mempelai laki : “Aku nikahkan kamu dengan fulanah”. Lalu calon mempelai laki menjawab : “Saya terima nikah ini”. Akad ini dengan dihadiri dua saksi.
Islam tidak memperkenankan seorang muslim melampaui batas yang telah disyariatkan oleh Allah untuknya dimana ia dan segala yang dia punyai adalah milik Allah sehingga tingkah lakunya harus dalam batas-batas syariat Allah yang telah ditentukan-Nya sebagai bentuk rahmat bagi hamba-Nya. Barangsiapa berpegang teguh dengannya akan mendapat petunjuk dan bahagia sedang siapa yang menyelesihinya niscaya celaka dan binasa. Oleh karenanya Allah dengan sangat tegas mengharamkan zina dan liwath (homosek), serta mengharamkan seorang muslim melakukan tindakan bunuh diri dan merubah ciptaan Allah yang telah Allah jadikan pada bentuknya. Adapun mencukur kumis, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak serta khitan maka hal itu Allah yang memerintahkannya.
Allah juga mengharamkan atas seorang muslim untuk menyerupai musuh-musuh Allah dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka. Karena tasyabuh (tindakan menyerupai) mereka dan mencintai mereka pada hal-hal yang lahir dapat mengakibatkan tasyabuh dan mencintai mereka di dalam hati. Sedangkan Allah menginginkan seorang muslim untuk menjadi sumber pemikiran Islam yang benar dan bukan mengimpor pemikiran dan pendapat manusia. Allah menginginkan seorang muslim untuk menjadi qudwah (teladan) yang baik dan bukan orang yang taklid (mengekor orang lain).
Adapun hal-hal yang berkaitan dengan produksi dan pengalaman-pengalaman ketrampilan yang benar maka Islam memerintahkan untuk mempelajari dan mengambilnya sekalipun telah didahului oleh orang non Islam. Karena Allah lah Yang mengajari manusia. Allah ta’ala berfirman :

]عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ[ (العلق:5)
“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Al ‘Alaq : 5). Ini merupakan posisi tertinggi dalam memberikan nasehat dan perbaikan bagi manusia dalam mengambil manfaat dari kebebasannya, menjaga kemuliannya serta melindunginya dari kejahatan dirinya dan orang lain.

D-Kebebasan tempat tinggal.
Allah ta’ala memberikan bagi seorang muslim kebebasan bertempat tinggal. Untuk itu tidak boleh seorangpun masuk tanpa seijinnya dan tidak boleh melihat ke dalam rumahnya tanpa seijinnya.

E-Kebebasan mencari penghasilan hidup.
Allah memberikan bagi seorang muslim kebebasan mencari penghasilan hidup berikut mengeluarkan nafkah dalam batas-batas yang telah disyariatkan untuknya. Untuk itu Allah memerintahkannya bekerja dan berpenghasilan supaya dapat mencukupi dirinya dan keluarganya dan supaya ia dapat berinfaq pada jalan kebaikan. Pada waktu yang sama Allah mengharamkan atasnya penghasilan-penghasilan yang diharamkan seperti riba, lotre, sogok, mencuri, upah perdukunan, sihir, zina dan homosek. Allah juga mengharamkan hasil jualan barang-barang yang diharamkan seperti hasil jual patung-patung yang memiliki nyawa, khomer, babi, alat-alat permainan yang diharamkan, serta upah menyanyi dan menari. Sebagaimana penghasilan dari sumber-sumber ini diharamkan demikian pula membelanjakan harta untuk itu juga diharamkan. Untuk itu seorang muslim tidak dibenarkan membelanjakan harta sedikitpun melainkan pada jalan yang disyariatkan.. Ini merupakan posisi tertinggi dalam memberikan nasehat, petunjuk serta perbaikan bagi manusia dalam perkara penghasilan dan cara membelanjakannya supaya ia dapat hidup secara kaya dengan penghasilan halal nan secara bahagia.

Kesembilan, Konsep Islam Mengenai Keluarga.
Allah ta’ala memberikan aturan bagi keluarga dalam syariat Islam secara sempurna dimana dapat merealisasikan faktor-faktor kebahagiaan bagi orang-orang yang mau mengambilnya. Allah mensyariatkan ihsan (berbuat baik) kepada kedua orangtua (ayah dan ibu) dengan berkata lembut, mengunjunginya secara rutin jika ia jauh dari keduanya, berkhidmat kepada keduanya, memenuhi semua kebutuhannya, memberi belanja keduanya, memberinya tempat tinggal jika keduanya faqir atau salah satu dari keduanya. Allah memberikan ancaman siksa bagi siapa yang menelantarkan kedua orang tuanya dan menjajikan orang yang berbuat ihsan kepada keduanya dengan kebahagiaan. Allah mensyariatkan pernikahan dan menjelaskan dalam kitab-Nya hikmah disyariatkannya nikah melalui lisan Rasul-Nya saw. Diantaranya :
1-Dengan nikah akan diperoleh faktor terbesar terjaganya kesucian diri dan menjaga kemaluan dari yang haram (zina) serta menjaga mata dari memandang yang haram.
2-Dengan nikah akan diperoleh ketentraman dan ketenangan bagi suami istri dari pasangannya masing-masing karena Allah menjadikan antara keduanya mawadah (kecintaan) dan rahmah (kasih sayang).
3-Dengan nikah kwantitas kaum muslimin akan bertambah banyak sesuai dengan syariat dimana didalamnya ada kesucian dan kebaikan.
4-Dengan nikah masing-masing suami istri dapat melayani pasangannya ketika masing-masing menjalankan tugas yang selaras dengan tabiatnya sebagaimana yang diciptakan oleh Allah ta’ala.
Seorang laki-laki bekerja di luar rumah dan mencari penghasilan supaya dapat memberi belanja istri dan anak-anaknya. Sedang sang istri bekerja di dalam rumah. Ia hamil, menyusui, mendidik anak-anak dan menyiapkan hidangan makan bagi suaminya, rumah dan tempat tidur. Apabila suaminya masuk rumah dalam keadaan capek maka akan segera hilang rasa capeknya dengan melihat istri dan anak-anaknya. Sehingga semua anggota keluarga dapat hidup bahagia dan tentram. 
Tidak mengapa istri turut mendampingi suaminya –jika kedua memang saling meridhoi- untuk melakukan beberapa pekerjaan yang dapat memberikan hasil untuk dirinya ataupun untuk membantu suaminya mendapatkan penghasilan. Namun hal itu dengan syarat pekerjaan yang dia lakukan jauh dari laki-laki dimana tidak bercampur dengan mereka. Hal itu seperti pekerjaan yang ada di dalam rumahnya atau di sawah miliknya ataupun sawah milik suami atau keluarganya. Adapun pekerjaan yang mengakibatkan ia harus bercampur baur dengan laki-laki di pabrik, kantor, toko atau yang semisalnya maka yang demikian ini tidak dibolehkan untuk wanita. Dan tidak boleh bagi suaminya, atau orang tuanya dan kerabatnya merestuinya sekiranya dirinya rela melakukan hal itu. Karena hal itu akan dapat menjerumuskan dirinya dan masyarakat dalam kerusakan. Untuk itu selama wanita terjaga dan terpelihara di dalam rumahnya tanpa diperlihatkan terhadap kaum laki maka ia akan senantiasa dalam keamanan dan tak akan disentuh oleh tangan-tangan dosa dan tidak pula dilihat oleh mata keranjang. Adapun jika wanita keluar ditengah manusia maka saat itu ia lenyap dan jadilah ia bak doma berada diantara gerombolan serigala. Tidak menunggu waktu sejenak melainkan orang-orang jahat itu telah merobek-robek kehormatan dan harga dirinya.
Jika seorang suami belum merasa cukup dengan satu istri maka Allah telah membolehkannya untuk poligami sampai empat saja. Dengan syarat harus ada sikap adil diantara istri-istrinya menurut kadar kemampuannya berupa tempat tinggal, nafaqoh dan giliran. Adapun kecintaan hati maka tidak disyaratkan harus adil karena hal itu perkara yang tidak dimiliki seseorang dan ia tidak dicela karena hal itu. Keadilan yang Allah nafikan kemampuannya oleh manusia dengan firman-Nya:

]وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ[ (النساء:129)
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (An Nisa’ : 129) maksudnya di sini adalah cinta dan semua yang terkait. Sikap adil yang ini Allah tidak menjadikan kemustahilan direalisasikannya sebagai penghalang untuk berpoligami karena itu sudah diluar kadar kemampuan orang. Sebab Allah ta’ala lebih mengetahui terhadap apa yang dapat membuat mereka baik maka perkara poligami tersebut sesuatu yang baik bagi kaum laki dan wanita. Hal itu dikarenakan seorang laki-laki yang normal mempunyai persiapan dari aspek biologis dimana dengan faktor itu ia dapat memenuhi kebutuhan batin bagi empat wanita dan menjadikan mereka bisa menjaga kehormatan diri. Manakala seorang laki hanya dibatasi dengan satu wanita  sebagaimana yang berlaku di kalangan orang nasrani dan yang lain dan sebagaimana pula yang digembar-gemborkan oleh orang-orang yang mengaku-aku beragama Islam, jika ia hanya dibatasi dengan satu wanita niscaya akan terjadi berbagai kerusakan berikut:
Pertama; Jika ia seorang beriman yang taat kepada Allah niscaya ia akan takut kepada Allah karena ia terkadang menjalani kehidupannya dengan merasakan kehilangan sesuatu dan kebutuhan nafsu tertahan dari yang halal. Karena kondisi satu istri pada saat masa hamil tua, nifas, haidh dan sakit dapat menahan suami dari menggaulinya. Inipun jika istri menarik bagi suaminya dan keduanya saling mencintai. Adapun jika sekiranya istrinya tidak menarik bagi suami maka perkaranya akan lebih berbahaya lagi.
Kedua; jika sang suami seorang yang bermaksiat kepada Allah lagi mau berbuat serong maka ia akan melakukan perbuatan keji yang berupa zina dan berpaling dari istrinya. Banyak orang yang tidak sependapat dengan adanya poligami melakukan kejahatan zina dan serong tanpa batas. Lebih dahsyat lagi ia dapat dihukumi kafir manakala ia memerangi poligami yang disyariatkan dan mencelanya padahal ia mengetahui Allah membolehkannya.
Ketiga; banyak kalangan wanita tidak dapat menikah dan berketurunan jika poligami dilarang. Sehingga seorang wanita sholihah dan menjaga kesuciannya diantara mereka hidup sebagai seorang wanita merana tanpa nikah. Sedang wanita yang lain hidup sebagai wanita yang berbuat keji murahan dimana kehormatannya dipermainkan oleh orang-orang jahat.
Sudah maklum bahwa wanita itu lebih banyak kwantitasnya daripada kaum laki disebabkan potensi kaum laki mengalami kematian dalam skala lebih besar oleh faktor peperangan dan lahan-lahan pekerjaan yang berbahaya yang mereka jalani. Sebagaimana telah maklum bahwa seorang wanita telah siap menikah semenjak masuk masa baligh. Adapun kaum laki  tidak semuanya siap karena banyak diantara mereka tidak mampu menikah karena tidak kuat membayar mahar, biaya hidup rumah tangga dan seterusnya. Dengan demikian diketahui bahwa Islam itu bersikap adil (proposional) dan menyayangi wanita. Adapun orang-orang yang menyerang adanya poligami yang disyariatkan maka mereka itu musuh bagi wanita, bagi kebaikan dan bagi para nabi. Karena poligami itu sunah nabi-nabi Allah as. Saat mereka menikahi banyak wanita lalu menghimpunnya pada batas-batas yang telah Allah syariatkan bagi mereka.
Adapun rasa cemburu dan sedih yang dirasakan seorang istri ketika suaminya mengambil istri lain maka itu merupakan perkara naluri dan perasaan dimana tidak dibenarkan untuk didahulukan daripada syariat pada perkara apapun. Mungkin saja bagi wanita memberikan syarat untuk dirinya sebelum akad nikah untuk tidak dimadu oleh suaminya. Jika suaminya menerima berarti ia terikat oleh syarat itu. Jika ternyata ia memutuskan menikah lagi maka wanita tadi boleh memilih antara tetap dalam perkawinannya atau fasakh (membatalkannya) dan pihak laki tidak boleh mengambil apa yang telah diberikan kepada istrinya.
Allah mensyaratkan talaq, pada konteksnya lebih khusus dalam kondisi perselisihan dan perpecahan antara suami istri dan pada kondisi tidak ada saling mencintai supaya keduanya tidak hidup dalam kesengsaraan dan perselisihan dan supaya masing-masing keduanya mendapatkan pasangan yang ia sukai dan dapat memperoleh kebahagiaan bersamanya dalam sisa umurnya dan di akhirat kelak jika keduanya meninggal dalam Islam.

Kesepuluh; Konsep Islam Mengenai Kesehatan
Syariat Islam datang membawa semua prinsip-prinsip kedokteran. Dalam Al Qur’an dan hadits-hadits Rasul saw terdapat penjelasan mengenai banyak penyakit kejiwaan dan badan sekaligus menjelaskan therapinya yang bersifat materil dan moril. Allah ta’ala berfirman:

]وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَاراً[ (الاسراء:82)
“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Al Isra’ : 82)
Rasul saw bersabda :
ما أنزل اللد داء إلا أنزل الله دواءً علمه من علمه وجهله من جهله

 “Tidaklah Alah menurunkan suatu penyakit melainkan Allah turunkan pula obatnya. Diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak ditangkap oleh orang yang tidak mengetahuinya”

 dan beliau bersabda :

تدووا عباد الله  ولا تداووا بالحرام

 “Berobatlah kalian wahai hamba-hamba Allah dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang haram”.

 Dalam kitab Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil Ibaad karangan Imam Ibnul Qoyyim terdapat penjelasan secara rinci mengenai hal itu. Silahkan dirujuk kembali kitab tersebut karena termasuk diantara kitab-kitab Islam yang paling bermanfaat, paling outentik dan paling lengkap dalam menjelaskan Islam dan perjalanan hidup Rasulullah saw.

Kesebelas; Konsep Islam Mengenai Ekonomi, Bisnis Perdagangan, Produksi dan Pertanian.
Konsep Islam mengenai ekonomi, bisnis perdagangan, produksi, pertanian dan semua yang menjadi kebutuhan manusia berupa air, bahan pangan, sarana-sarana umum dan sistem yang memberikan jaminan kelestarian lingkungan kota dan pedesaan mereka. Kebersihan dan penataan lalu lintasnya. Serta memberantas tindakan main curang, dusta dan selain itu. Semua ini telah dijelaskan dalam Islam secara rinci dan lengkap.

Kedua belas; Konsep Islam Dalam Menjelaskan Musuh-Musuh Tersembunyi dan Cara Menghindarinya    
Allah ta’ala menjelaskan di dalam Al Qur’an bagi hamba-Nya yang muslim bahwa ia mempunyai musuh-musuh yang hendak menyeretnya kepada kebinasaan di dunia dan akhirat. Jika ia mematuhi dan mengikutinya maka Allah memperingatkan dari musuhnya dan menjelaskan jalan menyelamatkan diri darinya. Musuh-musuh tersebut adalah;
Pertama, syaitan terlaknat yang memback up sisa musuh-musuh yang lain dan menggerakkannya melawan manusia. Dialah musuh bapak kita, Adam dan ibu kita, Hawa yang telah mengeluarkan keduanya dari surga. Dia merupakan musuh langgeng bagi keturunan Adam hingga berakhirnya dunia. Ia bekerja keras untuk menjerumuskan mereka kepada kekafiran kepada Allah hingga Allah melanggengkan mereka ke neraka bersama-sama dirinya –kita berlindung kepada Allah. Dan siapa yang tak mampu ia jerumuskan kepada kekafiran maka ia berusaha menjerumuskannya pada berbagai kemaksiatan yang mengakibatkan ia mendapat murka dan siksa Allah.
Syaitan merupakan ruh yang berjalan dalam tubuh manusia pada aliran darah. Syetan memasukkan bisikan-bisikan dalam dadanya dan dia buat keburukan tampak indah baginya hingga dapat dia jerumuskan pada keburukan tersebut jika menaatinya. Jalan menyelamatkan diri darinya sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah ta’ala yaitu seorang muslim jika sedang marah  atau terdetik untuk melakukan kemaksiatan supaya mengucapkan : “Saya berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk”. Lalu tidak melampiaskan kemarahannya dan tidak menjalankan kemaksiatannya. Selain itu supaya ia menyadari bahwa yang mendorong kepada keburukan yang dia rasakan dalam dirinya adalah syaitan supaya menjerumuskannya pada kebinasaan kemudian setelah itu ia berlepas diri darinya. Allah ta’ala berfirman :

]إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ[ (فاطر:6)
“Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (Fathir : 6)
Musuh kedua; Hawa nafsu. Dari hawa nafsu inilah terkadang manusia merasakan keinginan untuk menolak kebenaran dan meninggalkannya jika ada yang datang lainnya. Demikian pula keinginan untuk menolak hukum Allah ta’ala karena berseberangan dengan keinginannya. Berangkat dari hawa nafsu inilah perasaan lebih didahulukan daripada kebenaran dan keadilan. Jalan menyelamatkan diri dari musuh ini adalah seorang hamba hendaknya memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari mengikuti hawa nafsu dan jangan memenuhi dorongan hawa nafsunya sehingga tidak sampai ia ikuti. Namun ia mengatakan yang benar dan menerimanya sekalipun itu pahit dan memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan.
Musuh ketiga; nafsu yang menyuruh kepada keburukan. Diantara suruhannya berbuat buruk apa yang dirasakan seseorang dalam dirinya  dari keinginan untuk melakukan syahwat yang diharamkan seperti zina, minum khomer, berbuka pada bulan romadhon tanpa alasan yang dibenarkan syariat dan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah selain itu. Jalan menyelamatkan dari musuh ini adalah seorang hamba hendaknya memohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari kejahatan dirinya dan dari syaitan, sabar menahan diri dari menjalankan syahwat yang diharamkan ini dan menahan diri darinya karena mencari ridho Allah sebagaimana ia sabar menahan dirinya dari makan atau minum yang sangat ia ingini namun makanan tersebut membahayakan dirinya sekiranya ia makan atau minum. Ia mengingat-ingat bahwa syahwat yang diharamkan ini cepat lenyap yang akibatnya penyesalan panjang.
Musuh keempat; syaitan berujud manusia. Mereka adalah para pelaku kemaksiatan dari bani Adam yang telah dipermainkan syaitan. Jadilah mereka mengerjakan kemungkaran dan membuatnya nampak indah dihadapan orang yang bergaul dengan mereka. Jalan menyelamatkan dari musuh ini adalah waspada darinya, menjauhkan diri dan tidak bergaul dengannya.    

Ketiga belas; Konsep Islam Mengenai Idialisme dan Hidup Bahagia
  Sasaran tinggi yang Allah ta’ala arahkan kepada hamba-hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya bukanlah kehidupan dunia ini berikut segala yang menggiurkan didalamnya yang fana. Namun sasaran tinggi tersebut adalah persiapan untuk masa depan yang hakiki dan abadi. Yaitu kehidupan akhirat setelah mati. Sehingga seorang muslim yang benar akan bekerja dalam kehidupan ini dengan anggapan dunia hanyalah sekedar sarana menuju kehidupan akhirat dan bukannya sebagai tujuan akhir.
   Ia mengingat-ingat firman Allah ta’ala :’

]وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ[ (الذريات:56)
 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz Dzariat : 56)
  
Firman Allah ta’ala :
]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(18) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ)    (19)لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ[(20)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwallah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esuk hari (akhirat), dan bertaqwallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung” (Al Hasyr : 18-20).

 Allah ta’ala berfirman :

]فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ) (7)وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ[ (8)
 “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebarat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya.” (Al Zilzalah : 7-8)

   Seorang muslim yang benar akan mengingat-ingat ayat-ayat yang agung ini dan firman Allah lainnya yang diarahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya sebagai tujuan Allah menciptakan mereka dan masa depan yang sedang menanti-nanti mereka tidak ragu lagi. Sehingga ia kan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa depan yang hakiki nan abadi itu dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata dan mengerjakan amal yang membuat Allah ridho dengan penuh harap akan ridho Allah kepadanya dan dimuliakan di kehidupan ini dengan ketaatan kepada-Nya dan setelah mati dengan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Sehingga Allah memuliakannya dalam kehidupan ini dengan mengaruniakannya kehidupan yang baik. Ia hidup dalam perlindungan dan penjagaan Allah. Memandang dengan cahaya Allah. Menunaikan berbagai macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada-Nya. Sehingga ia dapat merasakan kelezatan munajat kepada Allah ta’ala dan ia berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisannya lalu hatinyapun merasakan ketenangan dengan itu.
   Ia bersikap baik kepada manusia dengan ucapan dan perbuatannya. Sehingga iapun mendengar dari orang-orang baik di antara mereka pengakuan akan kebaikannya, doa untuk dirinya apa yang menggembirakan dan melegakkan dadanya. Ia melihat sikap mengingkari karya baiknya dari orang-orang yang mendengkinya  tidak menghalanginya untuk berbuat baik kepadanya, karena dia tiada lain menghendaki dengan perbuatan baiknya wajah Alloh dan pahalaNya. Ia mendengar dan melihat caci makian dan gangguan dari orang-orang jahat yang benci kepada agama Alloh dan pemeluknya apa yang mengingatkannya dengan apa yang dihadapi para utusan Alloh maka menyadari bahwa hal ini di jalan Alloh maka menambahinya cintanya kepada Islam dan keteguhannya diatasnya. Ia beramal dengan tangannya di kantor, atau kebun atau tokonya  atau pabrik untuk memberi manfaat kepada kaum muslimin dengan produksinya supaya mendapatkan pahala  dari Alloh di hari ia bertemu dengannya atas niatnya yang sholeh, dan supaya mendapatkan penghasilan yang baik yang bisa ia pakai membelanjahi dirinya dan keluarganya, bershodaqoh darinya maka ia hidup dengan kaya hati, mulia, merasa cukup mengharap pahala dari Alloh ta’ala, kareana Alloh mencintai  orang mukmin yang kuat yang bekerja, makan, minum, tidur tanpa berlebih-lebihan agar memperkuat diri dengannya untuk taat kepada Alloh, menggauli istrinya untuk menjaga kehormatannya dan dirinya dari apa yang diharamkan oleh Alloh, dan agar menurunkan anak-anak yang beribadah kepada Alloh serta mendoakan untuknya ketika masih hidup atau sudah mati maka lestarilah amal sholehnya, dan semakin bertambah banyak dengan mereka jumlah kaum muslimin maka dengannya dia mendapatkan pahala dari Alloh. Mensyukuri Alloh atas segala nikmatNya dengan mempergunakannya untuk ketaatan kepada Alloh serta mengakui bahwa semuanya hanya dari Alloh semata maka ia mendapatkan dengannya pahala dari Alloh ta’aala. Dia mengetahui bahwa apa yang kadang kadang menimpanya dari kelaparan, ketakutan, sakit dan beberapa musibah tiada lain hal itu ujian dari Alloh agar Dia melihat- dan Dia lebih mengetahui tentang dirinya- kadar kesabarannya, ridhonya dengan qodar Alloh swt, maka ia sabar, ridho dan memuji Alloh ats segala kondisi dengan mengharap pahalanya yang Dia sediakan bagi orang-orang sabar, maka jadi ringanlah musibah tersebut dan menerimanya, seperti menerimanya orang sakit pahitnya obat karena keinginannya untuk sembuh.
Jika seorang muslim hidup didunia ini sebagaimana Alloh perintahkan dengan ruh yang tinggi dia akan beramal untuk masa depan yang hakiki yang kekal, agar berbahagia kebahagiaan yang abadiyang tidak tidak dikeruhkan oleh kekeruhan kehidupan inidan tidak akan diputus oleh kematian, maka tidak diragukan lagi bahwa dia adalah orang yang bahagia di dunia, bahagia di kehidupan akhir setelah kematian. Alloh berfirman :

]تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ[ (القصص:83)

Itulah kampung akhirat yang kami berikan buat orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka bumi juga tidak menghendaki berbuat kerusakan, dan kesudahan baik bagi orang-orang yang bertakwa.
]مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ[ (النحل:97)
Barang siapa yang beramal sholeh baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman maka kami akan berikan dia kehidupan yang baik dan benar-benar kami akan balas mereka pahala mereka dengan yang paling baik apa yang mereka kerjakan.
   Di ayat yang mulia di atas dan ayat semisalnya Alloh swt menghabarkan bahwa Dia membalas laki-laki sholeh dan wanita sholihah yang beramal di dunia ini dengan ketaatan kepada Alloh dlam rangka mencari ridhoNya dengan balasan yang segera di kehidupan dunia ini  yaitu kehidupan yang baik yang bahagia yang telah kami sebutkan terdahulu, dan balasan belakangan setelah mati, yaitu kenikmatan surga yang kekal, dalam hal ini Rasul saw bersabda :
(( عجباً للمؤمن أن أمره كله له خير إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له ))         
Sungguh mengherankan orang beriman segala urusannya baginya baik, jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka adalah baik baginya, dan jika tertimpa kesusahan dia sabar maka ia baik baginya.
Dengan ini jelas bahwa sungguh hanya dalam Islam saja idiologi yang benar, ukuran yang tepat bagi baik dan buruk, syistim yang lengkap dan adil, dan bahwa segala pendapat dan teori dalam ilmu jiwa, kemasyarakatan, pendidikan, politik, ekonomi, dan segala aturan dan syistim syistim manusia harus diluruskan sesuai dengan cahaya Islam, diambil darinya, kalau tidak mustahil akan beruntung apa yang bertentangan dengannya, bahkan sumber kecelakaan orang yang mengambilnya baik di dunia maupun di Akherat.
                                      

FASAL KELIMA
Menyingkap Kesalahfahaman

Pertama : orang –orang yang berbuat buruk terhadap Islam

Kebanyakan yang berbuat keburukan terhadap Islam ada dua golongan :

Kelompok pertama : orang yang menisbahkan dirinya kepada Islam dan menda’wakan bahwa mereka kaum muslimin, akan tetapi mereka menyalahi Islam dengan ucapan dan perbuatan mereka, mereka melakukan perbuatan Islam berlepas diri darinya, mereka tidak mewakili Islam, dan tidak sah amalan mereka dinisbahkan kepada Islam, mereka itu adalah :
A-Orang-orang Yang menyeleweng dalam aqidah mereka, seperti orang yang thowaf di kuburan dan minta kebutuhan mereka dari yang dikuburkan, serta beri’tiqod bahwa mereka memiliki untuk memberikan manfaat dan bahaya.
B-Yang rusak dalam Akhlaq dan agama mereka, mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang diwajibkan oleh Alloh, dan melakukan yang diharamkan, seperti : zina, minum khomer, mencintai musuh Alloh dan melakukan perbuatan yang meniru mereka.
C-Diantara yang menjelekkan Islam adalah orang-orang Islam, akan tetapi iman mereka kepada Alloh lemah, praktek mereka terhadap ajarn Islam kurang, mereka lalai terhadap sebagian kewajiban, akan tetapi tidak meninggalkannya, melakukan sebagian yang haram yang tidak sampai derajat syirik besar atu yang lainnya dari macam-macam kekafiran, sungguh mereka terbiasa dengan kebiasaan jelek yang diharamkan, Islam bebas darinya, dan dianggap sebagia dosa-dosa yang besar seperti dusta, menipu, menyalahi janji, hasad, mereka semuanya berbuat buruk terhadap Islam karena orang yang tidak mengetahui Islam dari orang selian Islam menyangka bahwa Islam membolehkan mereka berbuat demikian.
Adapun kelompok kedua dari orang-orang yang berbuat buruk terhadap Islam adalah manusia-manusia dari musuh-musuh Islam, yang dengki kepadanya, dan mereka sebagiannya orang-orang orientalis, para kristianis dan yahudi, dan orang yang mengikuti mereka dari orang yang dengki terhadap Islam yang membikin gerah mereka akan kesempurnaannya, keluesannya, dan cepat tersebarnya, karena dia adalah agama fitroh yang diterima oleh fitroh dengan sekedar dipaparkannya, semua orang selain Islam hidup dalam dalam kegundahan, dalam perasaan tidak ridho dengan agamanya, madzhabnya yang ia ikuti, karena ia menyalahi fitrohnya yang Alloh ciptakan manusia diatasnya kecuali seorang muslim sejati, karena sesungguhnya dialah yang satu-satunya hidup bahagia dan ridho dengan agamanya, karean dia adalah agam ayang haq yang Alloh syareatkan, dan syareatnya  sesuai dengan fitroh yang Dia telah menciptakan manusia diatasnya, untuk itu kita katakana kepada setiap Nasrani, yahudi, dan setiap orang yang di luar Islam: sesungguhnya anak-anakmu dilahirkan dalam fitroh Islam akan tetapi engkau dan ibu mereka telah mengeluarkan mereka dari Islam dengan pendidikan yang rusak atas kekafiran dan dia adalah yang yang menyalahi Islam dari agama-agama dan aliran-aliran pemikiran.
Mereka yang dengki terhadap Islam dari kaum misionaris dan orientalis sungguh telah berbuat kedustaan atas Islam dan atas Penutup para Nabi, Muhammad sollallohu ‘alaihi wa sallam:
1-    dengan mendustakan risalahnya pada suatu saat.
2-    Dengan menuduhkan kepadanya dengan sesuatu keaiban, sedangkan dia terbebas dengan persaksian Alloh dari segala keaiban dan kekurangan walaupun mereka tidak suka
3-    Dengan menggambarkan sebagian hukum Islam yang adil yang disyariatkan Alloh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijakasana dengan gambaran buruk untuk membikin manusia lari darinya.
  Akan tetapi Aloh swt membatalkan tipu daya mereka karena mereka memerangi kebenaran sedangkan kebenaran itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi diatasnya, Alloh ta’aala berfirman :

]يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ) (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ[ (9) الصف
Mereka menghendaki untuk memadamkan cahaya Alloh dengan mulut-mulut mereka, dan Alloh menyempurnakan cahayanya walaupun orang-orang kafir tidak suka. Dialah yang mengutus rasulNya dengan petunjuk dan Diin yang haq agar memenangkan atas seluruh agama walaupun orang-orang musyrik tidak suka.




Kedua : Sumber-sumber Islam .

Kalau engkau –wahai orang yang berakal- menghendaki untuk mengetahui tentang Islam yang sesuai dengan hakekatnya, maka bacalah Al-Qur’an yang agung, dan hadist-hadits Nabi Muhammad saw yang shohih yang tertulis dalam Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Muwatho’ Imam Malik, Musnad Imam Ahmad bin Hambal, Sunan Abi Dawuud, Sunan Nasai, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Daarimi, dan bacalah siroh Nabi karangan Ibnu Hisyam, Tafsir Alqur’anul ‘Adzim karangan Ibnu Katsir, Kitab Zaadul Ma’aad Fi hady Khoir ‘ibad karangan ‘Allamah Ibnul Qoyyim, dan seperti buku-buku tersebut dari kitab-kitab para pemimpin Islam, Ahli tauhid dan dan Da’wah dengan konsep yang jelas, seperti Syeikul Islam Ahmad bin Taimiyyah, Al Imam Mujaddid Muhammad Bin Abdul Wahhab yang Alloh jayakan dengannya dan dengan amirul muwahhidiin Muhammad Bin Sa’ud Diinul Islam dan Aqidah Tauhid di Semenanjung Arab dan sebagian tempat sejak abad kedua belas  hijroh sampai sekarang setelah tersebarnya kesyirikan.
Adapun buku-buku orientalis dan golongan yang menisabahkan diri kepada Islam dan dia mengajak kepada perkara yang bertentangan dengan Islam telah kita sebutka, atau yang melakukan terhadap semua sahabat rasulillah saw atau sebagian mereka dengan cacian, ejekan atau yang menyinggung para Imam yang mengajak untuk mentauhidkan Alloh ta’ala, seperti Ibnu Taimiyyah,Ibnu Qoyyim, dan Muhammad Bin Abdul Wahhab dengan membikin kedustaan atas mereka maka buku-buku mereka menyesatkan, hendaklah anda waspada untuk tidak tertipu dengannya atau membacanya.

Madzhab-madzhab Islam
Semua kaum muslimin atas satu madzhab yaitu Islam, refrensi mereka adalah Al-Qur’an dan hadits Rasul saw, adapun yang dinamakan Madzahib Islamiyyah seperti madzhab yang empat Hanbali, Maliki, Syafi’I dan Hanafi tiada lain yang dimaksudkan aliran pemikiran Fiqh Islam yang para ulama tersebut mengajarkan di dalamnya murid-murid mereka, dan setiap murid dari orang ‘alim kaidah-kaidah dan masalah-masalah yang mereka istimbatkan dari ayat-ayat AlQur’an dan hadits-hadits Rasul, maka masalah-masalah ini dinisbahkan kepadanya dan
diberi nama sebagai madzhabnya di kemudian hari, maka madzhab-madzhab tersebut bersepakat dalam prinsip-prinsip Islam semua sumbernya Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul, dan apa yang didapatkan dari perbedaan maka hal itu masalah masalah cabang yang jarang, semua ulama memerintahkan murid-muridnya untuk mengambil ucapan yang didukung oleh nas Qur’an atau hadits, walaupun dikatakan oleh orang lain.
Seorang muslim tidak diharauskan mengikuti salah satu darinya, melainkan diharuskan merujuk kepada AlQur’an dan hadits, adapun apa yang terjatuh kebanyakan orang-orang yang tergolong pengikut madzhab-madzhab tersebut dalam penyelewengan masalah aqidah dengan apa yang mereka lakukan di kuburan seperti thowaf dengannya, dan minta pertolongan dengan penghuninya, dan apa yang mereka terjatuh di dalam menta’wilkan sifat-sifat Alloh dengan memalingkan maknanya dari dhohirnya maka sesungguhnya mereka telah menyalahi imam-imam mereka dalam aqidah, karena aqidah para imam adalah aqidah salaf sholih yang telah disebutkan dalam masalah firqoh najiyah[golongan yang selamat]

Firqoh-firqoh keluar dari Islam

Terdapat di dunia Islam firqoh-firqoh[kelompok] keluar dari Islamsementara di digolongkan di dalam Islamserta mengaku kalau dirinya sebagai orang-orang Islam, akan tetapi pada hakekatnya bukan golongan Islam, karena aqidahnya aqidah yang kafir kepada Alloh, ayat-ayatnya, dan keesaanya.
Diantara kelompok-kelompok ini adalah :
Kelompok Kebatinan yang meyakini hulul[ menyatunya Tuhan dalam makhluq] dan penjelmaan kembali kedunia bagi yang telah mati, berkeyakinan bahwa nas-nas agama memiliki makna batin yang berbeda dengan makna dhohir yang diterangkan oleh Rasululloh saw dan konsesus kaum muslimin, dan makna batin tersebut merekalah yang mengarangnya sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Asal mula kebatinan adalah bahwa jamaah dari orang yahudi dan majusi serta kaum fiolosof yang ateis tatkala dikalahkan oleh penyebaran Islam, mereka berkumpul dan bermusyawarat untuk membikin satu madzhab dimaksudkan denagn madzhab tersebut memprak porandakan kaum muslimin, mengacaukan fikiran tentang makna-makna AlQur’an yang agung sehingga mereka bisa memecah belah kaum muslimin, maka mereka membikin madzahab yang merusak ini, dan mengajak yang lainnya untuk memeluknya, mereka mengolongkan diri mereka sebagai ahlul bait [keluarga rasul], mereka mendakwakan bahwa mereka sebagai pembalanya agar mereka lebih bisa menyesatkan orang awam, maka mereka bisa menjaring banyak orang dari orang-orang bodoh dan mereka sesatkan dari kebenaran.
Diantara firqoh tersebut Qodiyaniah, dinisbahkan kepada Ghulam Ahmad AlQodyani yang terkenal mengaku sebagai nabi, dan mengajak orang awam di India dan disekitarnya untuk beriman dengannya, dia serta pengikutnya telah dipergunakan Inggris selama mereka menjajah India, Inggris telah memberikan harta yang banyak sehingga diikuti oleh kebanyakan orang-orang bodoh, maka muncullah aliran AlQodyaniyah yang menampakkan diri sebagai kelompoh Islam, sementara ia berusaha untuk menghancurkannya dan mengeluarkan semampunya orang yang ia pengarui dari ruang lingkup Islam, ia terkenal mengarang buku Tasdiq Baroohiini Ahmadiyah[pembenaran bukti-bukti Ahmadiyah] dia mendakwakan kenabian di dalamnya, ia merubah makna teks-teks Islam, dan diantara yang ia selewngkan pengakuannya bahwa jihad dalam Islam telah dihapus, dan wajib bagi setiap muslim untuk damai dengan Inggris, ia mengarang waktu itu juga buku yang ia beri judul : Tiryaaqul Qulub[ Obat Hati], pendusta ini telah mati tahun 1908 M setelah menyesatkan orang banyak dan mendelegasikan tugas da’wahnya kepada penggantinya seorang yang sesat yang dinamai Hakim Nuuruddiin.
Dan diantara kelompok yang keluar dari Islam Firqoh yang dinamai Bahiyyah, didirikan permulaan abat ke 19 masehi diiran oleh seorang yang bernama Ali Muhammad, atau Muhammad Ali As-Syirozi, dia dari Firqoh Syiah dua belas, kemudian terkenal dengan madzhab sendiri mengaku bahwa dia adalah Al-Mahdi yang dinanti, kemudia dia mengaku bahwa Alloh Yang Maha Tinggi menitis dalam dirinya, jadilah dia tuhannya manusia – Maha Tinggi Alloh dari apa yang dikatakan orang kafir yang bejad- dan ia mengingkari kebangkitan, perhitungan, sorga neraka, ia mengikuti idiologi kaum Brahma dan Buda yang kafir, menggabungkan antara agama Yahudi, Kristen dan Islam, tidak perbedaan diantara mereka, kemudian mengingkari kenabian Penutup para rasul Muhammad saw, mengingkari hukum Islam yang banyak sekal, kemudian setelah mati diwarisi oleh pendukungnya yang menamai dirinya [ Al-Baha’] ia sebarkan ajarannya dan banyak pengikutnya maka firqoh ini dinisbahkan kepadanya, dan diberi nama : Bahaiyyah.
Diantara firqoh yang keluar dari Islam walaupun mengaku sebagai orang Islam dan melakukan sholat,puasa, haji adalah firqoh yang banyak jumlahnya dari aliran syiah, menyatakan bahwa Jibril as telah khianat dalam mengemban risalah dimana ia bawa kepada Muhammad saw, padahal ia diutus kepada Ali ra, sebagian mereka mengatakan Ali adalah Alloh, mereka melampaui batas dalam mengagungkannya dan mengagungkan anak keturunannya dan Fatiamah istrinya serta Khodijah ibunya -semoga Alloh meridhoi semuanya – bahka mereka telah menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Alloh dengan menyeru mereka, serta berkeyakinan bahwa mereka adalah maksum, kedudukan mereka di sisi Alloh besar dari kedudukan para Rasul as.
Mereka berkata bahwa Al-Qur’an yang ditangan kaum muslimin sekarang didalamnya ada tambahan dan kekurangan, mereka menjadikan buat mereka mushaf khusus, mereka karang di dalamnya ayat-ayat dan surat-surat dari diri mereka sendiri, mereka mencaci maki orang yang paling utama di kalangan kaum muslimin setelah nabi mereka Abu Bakar dan Umar ra, mereka mencaci maki Umul Mu’minin ‘Aisyah ra, beristighotsah dengan Ali dan anak-anaknya pada waktu sulit maupun longgar, menyeru mereka sealain Alloh swt, menamakan diri mereka dengan syiah, yaitu syiah Alu Bait,  sedangkan Ali dan keluarganya berlepas diri dari mereka karena mereka menjadikan mereka sebagai tuhan bersama Alloh, mereka berdusta atas nama Alloh, merubah kalamNya, Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakana.
Forqoh-firqoh kafir yang telah kami sebut, dia adalah sebagian dari  firqoh kafir yang mengaku sebagai orang Islam sementara menghancurkan dari dalam, maka sadarlah wahai orang yang berakal –wahai manusia muslim di setiap tempat-bahwa Islam bukan hanya pengakuan belaka, melainkan mengenal AlQur’an, mengenal hadits Rasul saw, yang tsabit[teruji kebenaran nisbahnya] dari beliau dan pengamalannya.
Maka tadabburilah Al-Qur’an Yang Agung, dan hadits-hadits  Rasul Muhammad saw, engkau akan mendapatkan petunjuk, cahaya, jalan yang lurus yang mengantarkan yang menitinya kepada kebaghagiaan di surga yang penuh kenikmatan di sisi Robbul Alamin.]

Ajakan Kepada Keselamatan
Wahai orang yang berakal baik laki maupun perempuan yang belum masuk Islam……………kepadamulah aku tujukan seruan kepada keselamatan dan kebahagiaan, aku katakan:
Selamatkan dirimu dari adzab Alloh Yang Maha Tinggi setelah mati di kuburan kemudian di neraka jahannam.
Selamatkan dirimu dengan Iman kepada Alloh sebagai Robb, dengan Muhammad sebagai Rasul, dengan Islam sebagai syistim hidup, katakana dengan penuh kejujuran : لا إله إلا الله محمد رسول الله  laa ilaaha illalloh muhammadar Rasululloh, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, sholatlah lilam waktu, tunaikan zakat, puasa bulan Romadhon, hajilah ke baitulloh Al-Harom jika engkau mampu perjalanannya.
Umumkanlah keislamanmu kepada Alloh sesungguhnya tidak ada keselamatan bagimu dan juga tidak ada kebahagiaan kecuali dengan itu
Sesungguh saya bersumpah untukmu dengan Alloh Yang Agung yang tidak ada ilaah kecuali Dia bahwa Islam ini dialah agama yang haq yang Alloh tidak menerima dari seorangpun sealinnya, dan saya persaksikan kepada Alloh, MalaikatNya, dan seluruh makhluqNya bahwa tidak ada Ilaah kecuali Allohdan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh, dan sesungguhnya Islam adalah yang benar serta saya termasuk orang yang menyerahkan diri kepada Alloh.
Saya memohon kepada Alloh –subhaanahu- dengan nikmatnya dan kemuliannya agar mematikan saya sebagai orang Islam yang sebenarnya demikian juga keturunanku dan seluruh saudaraku kaum muslimin, dan agar mengumpulkan kita di surga Na’im bersama nabi kita Muhammad  yang jujur lagi terpercaya, dan seluruh para nabi, keluarga Nabi kita, para sahabatnya. Aku mohon agar memberikan manfaat kitab ini setiap yang membacanya atau mendengarkannya…….. ketauilah bukankan sudah aku sampaikan? Ya Alloh saksikan.
Wallohu a’lam, semoga sholawat dan salam tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya, dan segala puji bagi Robb pemelihara sekalian alam.






[1]] Alloh adalah nama khusus untuk Ilaah [Dzat Yang berhak disembah] alam semesta dan manusia, dan segala sesuatu,  dan nama ini nama ‘alam Alloh memberikan nama diri-Nya yang suci artinya llah Yang Haq.
[2]] Ta’aala kata pengagungan dan pujian untuk Alloh, Dia disifati dengan ketinggian dan kesucian dari segala kekurangan, dan kata : subhaanahu artinya Sucilah Alloh dan terbebas dari segala kekurangan.
1] Tahapan dalam pencitaan ini, karena hikmah yang dikehendaki oleh Allah, padahal Dia mampu menciptakan seluruh makhluq lebih cepat dari kejapan mata, sebab Dia telah memberitakan jika berkehendak untuk menciptakan sesuatu cukup dengan mengatakan “Jadilah” maka jadilah.
2]Istiwa’ dalam bahasa arab yang dia bahasa Al-Qur’an maknanya : Diatas dan tinggi, sedangkan istiwa’ (bersemayamnya) Allah diatas Arsy-Nya ia Ketinggiannya diatas arsy yang sesuai dengan kebesaran-Nya, dan tidak ada yang tahu akan bagaimana istiwa’Nya selain Dia. Dan bukanlah maknanya menguasai, menguasai kerajaan, sebagaimana anggapan orang-orang yang sesat yang mereka mengingkari hakikat dari sifat yang Allah sifatkan bagi Diri-Nya, dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya, karena anggapan bahwa  jika mereka menetapkan sifat Allah atas hakikatnya, mereka menyerupakan-Nya dengan makluq-Nya, dan ini merupakan anggapan yang rusak, karena penyerupaan itu adalah jika dikatakan : “ dia itu menyerupai begini atau serupa begini dari sifat-sifat makluq-Nya. Adapun menetapkan sifat dari sisi yang layak dengan Allah dengan tidak menyerupakan, mengumpamakan, membagaimanakan, dan meniadakan makna, dan menta’wilkan itu adalah cara yang ditempuh para Rasul yang diikuti oleh ulama’ salaf shaleh. Itulah kebenaran yang  seharusnya orang yang beriman berpegang teguh dengannya, sekalipun kebanyakan manusia meninggalkannya.

[3]] Kecuali jika ingin mengingatkan seorang atau menjawabnya, ia membaca  : subhaanalloh, dibaca untuk [mengingatkan] imam jika salah dalam gerakan atau menambah atau mengurangi, supaya sadar dan dikatakan pula untuk oramg yang memanggilnya, adapun wanita dengan menepuk tangan dan tidak berbicara karena suaranya fitnah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar