Senin, 23 April 2012

Mengobati Penyakit Hati


  Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani

Dikutip dari buku:

Sembuh dan Sehat Cara Nabi صلي الله عليه وسلم

Karya: Syaikh Sa’id bin ‘Ali Wahf al-Qahthani
Terbitan: Mahtabah al-Hanif, Yogyakarta 2009




Dapatkan > 400 e-Book Islam di..


MENGOBATI PENYAKIT HATI

Hati itu ada tiga macam:
1.    Hati yang Bersih, Sehat, dan Selamat (Qalbun Salim)
Tidak ada yang selamat pada hari Kiamat kelak kecuali orang yang datang dengan hati yang selamat lagi bersih. Allah Ta'ala berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ. إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ.
“(Yaitu) hari yang tidak berguna lagi harta dan anak-anak laki-laki. kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Hati yang selamat atau bersih adalah hati yang terbebas dari setiap syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah, bersih dari setiap syubhat yang menentang berita dari-Nya, bersih dari setiap bentuk ibadah kepada selain- Nya, dan terbebas dari pengambilan hukum kepada selain Rasul-Nya. Intinya, hati yang bersih dan sehat adalah hati yang selamat dari segala bentuk perbuatan syirik kepada Allah dan hati yang mengikhlaskan semua ibadah hanya kepada Allah, baik dalam hal kehendak, cinta, tawakkal, taubat, kembali, takut, dan berharap, serta hati yang mengikhlaskan semua amalan hanya kepada Allah. Ia mencintai hanya karena Allah, membenci hanya karena Allah, dan memberi atau tidak memberi hanya karena Allah. Keinginan, cinta, tujuan, badan, amalan, tidur, dan jaganya hanya untuk Allah. Firman Allah dan pembicaraan tentang-Nya lebih ia sukai daripada semua ucapan. Pikirannya hanya tertuju pada hal-hal yang diridhai dan dicintai-Nya.[1] Kita mohon kepada Allah agar diberi hati seperti ini.

2.    Hati yang Mati (Qalbun Mayyit)
Ini adalah kebalikan dari jenis hati yang pertama. Ini adalah hati yang tidak mengenal Rabb-nya, tidak beribadah sesuai dengan perintah-Nya, tidak sesuai dengan yang diridhai dan dicintai-Nya. Ia adalah hati yang menuruti syahwat dan kesenangan dirinya meskipun menimbulkan amarah dan murka dari Rabb-nya. Ia adalah hati yang beribadah kepada selain Allah: dalam hal cinta, takut, berharap, ridha, marah, pengagungan, dan penghinaan. Ia membenci, mencintai, memberi, dan tidak memberi karena hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah sopirnya, dan kelalaian adalah kendaraannya.[2]  Kita berlindung kepada Allah dari hati seperti ini.

3.    Hati yang Sakit (Qalbun Maridh)
Yaitu hati yang masih hidup, tetapi mengidap penyakit. Ia mempunyai unsur yang saling mempengaruhi, kadang hidup dan kadang mati, tergantung unsur mana yang lebih dominan. Di dalamnya ada kecintaan kepada Allah Ta'ala, iman, ikhlas, dan tawakkal kepada-Nya, yang menjadi unsur-unsur kehidupan di dalamnya. Akan tetapi, ia juga memiliki kecintaan terhadap syahwat dan keinginan untuk mewujudkannya, kedengkian, sombong, ujub, cinta kedudukan, berbuat kerusakan di muka bumi dengan kekuasaannya, kemunafikan, riya', bakhil dan kikir. Itu semua merupakan unsur-unsur yang menyebabkan kehancuran dan kebinasaan dirinya.[3] Kita berlindung kepada Allah dari hati seperti ini.
Cara mengobati hati dari penyakit-penyakit tersebut telah disebutkan dalam al-Qur'an al-Karim.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu, penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. " (QS. Yunus: 57)
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً
"Dan Kami turunkan dari al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang berbuat zhalim selain kerugian." (QS. Al-Isra’: 82)

A. Macam-Macam Penyakit Hati
Pertama, penyakit hati yang tidak dirasakan oleh pemiliknya secara langsung, yaitu penyakit kebodohan, syubhat, dan keraguan. Ini adalah penyakit yang paling berbahaya. Sayangnya, hati yang rusak tidak dapat merasakan penyakit ini.
Kedua, penyakit hati yang secara langsung dapat dirasakan, seperti rasa cemas, gelisah, sedih, dan marah. Penyakit-penyakit seperti ini kadang-kala dapat disembuhkan dengan obat-obatan alamiah yaitu dengan cara menghilangkan sebab-sebab timbulnya penyakit-penyakit tersebut atau dengan cara-cara lainnya.[4]

B. Cara Mengobati Hati
Pertama, dengan al-Qur’an al Karim.
Al-Qur'an adalah obat yang dapat menyembuhkan hati dari penyakit keraguan, syirik, kekafiran, dan berbagai macam penyakit syubhat dan syahwat. Ia adalah petunjuk bagi orang yang mengetahui kebenaran dan mau mengamalkannya. Ia merupakan rahmat. Karena al-Qur'an-lah, orang-orang yang beriman dapat memperoleh pahala baik di dunia maupun di akhirat.
أَوَ مَن كَانَ مَيْتاً فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُوراً يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya vang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? " (QS. al-An'am: 122)
Kedua, hati membutuhkan tiga hal berikut.
1.    Segala sesuatu yang dapat menjaga kekuatannya, yaitu keimanan, amal shalih, dan dzikir.
2.    Pencegahan dari segala sesuatu yang membahayakan, yaitu menjauhi semua bentuk kemaksiatan dan segala bentuk penentangan.
3.    Tindakan untuk mengeluarkan segala unsur yang menyebabkan penyakit, yaitu taubat dan istighfar.
Ketiga, mengobati penyakit hati karena pengaruh hawa nafsu.
Ada dua cara pengobatan, yaitu dengan muhasabah (introspeksi) dan mukhalafah (penentangan) terhadap nafsu tersebut. Muhasabah ada dua:
1.    Sebelum melakukan amal ibadah, yaitu dengan melakukan empat hal berikut.
a.     Apakah amal ibadah tersebut mampu ia lakukan?
b.     Apakah amalan tersebut lebih baik ia lakukan atau lebih baik ia
b.     tinggalkan?
c.     Apakah amalan tersebut diniatkan ikhlas semata-mata untuk mencari wajah Allah?
d.     Apakah jenis amalan tersebut butuh bantuan? Apakah ia mempunyai orang yang dapat membantu dan menolongnya jika amalan tersebut butuh bantuan? Jika jawabannya ya, silahkan dikerjakan dan jika tidak, maka jangan sekali-kali dikerjakan.
2.    Sesudah melakukan amal ibadah, yaitu dengan melakukan tiga hal berikut.
a.     Melihat kembali kekurangan pada ibadah yang ia lakukan yang belum sesuai dengan yang seharusnya sehingga menyebabkan hak-hak Allah dalam ibadah tersebut belum ditunaikan dengan sempurna. Di antara hak-hak Allah Ta'ala adalah ikhlas, nasehat, mutaba'ah (sesuai dengan tuntunan Rasulullah -pentj.), ihsan, pengakuan atas nikmat Allah dalam ibadah tersebut, dan pengakuan adanya kekurangan setelah melakukan semua itu.
b.     Melihat kembali semua amalan yang ia lakukan yang sebenarnya amalan tersebut lebih baik tidak dilakukan.
c.     Melihat kembali hal-hal yang mubah atau adat kebiasaan yang tidak ia kerjakan. Apakah ia meninggalkan hal tersebut karena Allah dan mencari akhirat sehingga ia menjadi orang yang beruntung? Atau ia melakukannya demi kepentingan dunia sehingga ia menjadi orang yang rugi?
Kesimpulan dari itu semua, hendaknya seseorang melakukan introspeksi diri Pertama-tama terhadap amalan-amalan yang wajib: jika masih ada kekurangan, hendaknya disempurna-kan. Setelah itu melihat amalan-amalan yang dilarang: jika dirinya melakukan salah satu larangan tersebut hendaknya segera melakukan taubat dan istighfar. Setelah itu baru melihat semua amalan yang dilakukan oleh anggota badannya, kemudian semua amalan yang tidak dilakukannya. [5]
Keempat, mengobati penyakit hati akibat pengaruh setan.
Setan adalah musuh manusia. Cara menghindarkan diri dari setan adalah dengan isti'adzah (mohon perlindungan kepada Allah) dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah. Nabi صلي الله عليه وسلم telah menggabungkan permohonan perlindungan dari kejahatan diri dan kejahatan setan. Beliau 'alaihishshalatu wassalam berkata kepada Abu Bakar رضي الله عنه, "Ucapkan:
اَللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ عَالِـمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ
'Ya Allah, Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui perkara ghaib dan terang, Rabb dan Pemilik segala sesuatu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau, aku berlindung ke pada-Mu dari kejahatan diriku dan dari kejahatan setan beserta sekutunya, dan aku berlindung dari melakukan keburukan pada diriku sendiri atau aku timpakan kepada orang muslim yang lain.
'Bacalah pada waktu pagi, pada waktu petang, dan ketika engkau hendak tidur."[6]
Isti'adzah, tawakal, dan ikhlas dapat menghalangi penguasaan setan terhadap diri seseorang.[7] []



[1]   Lihat: Ighutsatul-Lahfan Min Masha'idisy-Syaithan karya Ibnul-Qayyim Rahimahullah: 1/7 dan 73
[2]   Lihat: Ighutsatul-Lahfan Min Masha'idisy-Syaithan: 1/9
[3]   Lihat: Ighutsatul-Lahfan Min Masha'idisy-Syaithan: 1/9
[4]   Lihat: Ighutsatul-Lahfan: 1/44
[5]   Lihat: Ighutsatul-Lahfan: 1/136
[6]   At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Lihat: Shahih at-Tirmidzi: 3/142
[7]   Lihat: Ighutsatul-Lahfan Min Masha'idisy-Syaithan: 1/145-162

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar