Senin, 23 April 2012

TAFSIR SURAT AL-IKHLAS

Karya: Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

            Segala puji bagi Allah dan cukuplah kepadaNya kita memuji, semoga salam tetap tercurahkan kepada para hamba-hambaNya yang terpilih, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du:
          Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur’an ini agar ayat-ayatnya direnungkan dan amalkan. Allah سبحانه و تعالي berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. [QS. Shaad: 29]
Dan Allah telah menjadikan Al-Qur’an sebagai penwar bagi berbagi penyakit, sebagai cahaya dan petunjuk. Allah سبحانه و تعالي berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً
Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. [QS. Al-Isro’: 82]
Allah سبحانه و تعالي berfirman:
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. [QS. Fusshilat: 44]
Di antara surat Al-Qur’an yang sering terdengar pada pendengaran kita dan sangat perlu untuk direnungkan dan fikirkan adalah surat Al-Ikhlas. Allah سبحانه و تعالي berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ.  لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ.  وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ  
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." [QS. Al-Ikhlas: 1-4]
          Dari Anas رضي الله عنه menceritakan seorang lelaki dari Anshor mengimami masyaraktnya di mesjid Quba. Dan setiap kali dia kali membaca surat tertentu di dalam shalatnya maka dia selalu membukanya dengan:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Sehingga begitu selesai membaca surat Al-Ikhlas maka barulah dia melanjutkannya dengan membaca surat yang lain. Dan hal tersebut dikerjakannya pada setiap rekaat dari shalat. Para shahabat yang lain berkata kepadanya: Sesungguhnya engaku selalu membuka bacaanmu dengan surat ini kemudian engkau melihat bahwa bacaan shalatmu tidak sempurna sehingga engakau menambahkannya dengan surat yang lain, sebaikan anda membaca surat ini (Al-Ikhlas) atau engkau meninggalkan membacanya dan menggantikannya dengan surat yang lain. Imam tersebut menjawab: Aku tidak akan meninggalkannya. Maka jika kalian senang aku sebagai imam kalian dalam shalat dan tetap membaca surat tersebut maka saya tetap menjadi imam. Namun jika kalian tidak menyenangi tindakan saya itu maka aku akan meninggalkan kalian, dan mereka melihat bahwa orang tersebut adalah pribadi yang paling baik di antara mereka dan mereka tidak suka jika ada orang lain selain dirinya mengimami masyarakat. Lalu pada saat mereka datang kepada Nabi صلي الله عليه وسلم merekapun memberitahukan tentang tindakan imam mereka. Maka Nabi صلي الله عليه وسلم bertanya kepadanya: Wahai fulan!, apakah yang menegahmu melakukan apa yang diperintahkan oleh para shahabatmu, dan apakah yang mendorongmu untuk selalu membaca surat ini pada setiap raka’at?. Imam tersebut menjawab: Aku mencintainya. Di dalam sebuah riwayat disebutkan: Sebab surat tersebut mengandung sifat Allah Yang Maha Penyayang.[1] Lalu Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: Cintamu kepada surat tersebut memasukkanmu ke dalam surga”.[2]
Dari Abi Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه berkata: Nabi صلي الله عليه وسلم berkata kepada para shahabatnya: Apakah salah seorang di antara kalian merasa tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur’an pada setiap malam?. Maka hal ini menyulitkan bagi para shahabat, lalu mereka bertanya: Siapakah di antara kita yang mampu melakukan hal tersebut wahai Rasulullah?. Maka Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: (الله الواحد الصمد) adalah sepertiga Al-Qur’an. Dan Nabi صلي الله عليه وسلم menjadikan surat ini sebagai penawar ditambah dengan surat-surat yang lain. Dan semua ayat-ayat Al-Qur’an adalah penawar bagi penyakit.
Dari Aisyah رضي الله عنها bahwa apabila Nabi صلي الله عليه وسلم akan beranjak tidur pada setiap malamnya maka beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniup pada keduanya:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Kemudian beliau mengusap bagian jasad yang bisa dijangkau dengan tangannya, mulai dari kepala, wajah dan bagian depan jasad beliau,  dan beliau mengerjakan hal tersebut selama tiga kali.[3]
Allah سبحانه و تعالي berfirman: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ, Ibnu Katsir berkata: Yaitu Dialah Allah, Yang Esa lagi Tunggal, Yang tidak seorangpun setara denganNya, tidak ada pendamping bagiNya, tidak ada tandingan bagiNya, tidak ada yang serupa dan tidak seorangpun yang sama denganNya, dan lafaz ini tidak boleh dinisbatkan secara mutlak kepada seorangpun dari makhluk Allah kecuali untuk Allah semata sebab Dialah Zat Yang Maha Sempurna dakan sifat dan perbuatanNya”.[4]
Firman Allah سبحانه و تعالي: اللَّهُ الصَّمَدُ, Ikrimah dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما  berkata: Zat yang berantung kepadaNya seluruh makhluk dalam kebutuhan dan masalah mereka. Dan orang-orang Arab memberikan gelar bagi pemuka-pemuka mereka dengan sebutan: Ash-shomad. Abu Wa’il berkata: Ash-shomad adalah  peminpin yang memiliki kekuasaan yang tertinggi.
Dan firman Allah سبحانه و تعالي:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ.  وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ
Maksudnya adalah tidak memiliki orang tua, anak dan teman.
Mujahid berkata: وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ maksudnya adalah shohibah (teman sebagai pasangan hidup). Dan yang dimaksud dengan kata shahibah adalah istri. Sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالي:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana dia mempunyai anak padahal dia tidak mempunyai isteri. dia menciptakan segala sesuatu; dan dia mengetahui segala sesuatu. QS. Al-An’am: 101
Maksudnya adalah Allah sebagai Zat yang memiliki segala sesuatu dan sebagai Penciptanya. Lalu bagaimana pantas Zat yang menciptakan akan memiliki kesamaan dengan dan kesetaraan serta tandingan dari makhlukNya, atau dia memiliki pembantu dekat yang selalu dekat denganNya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi.
Allah سبحانه و تعالي berfirman:
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَداً. لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئاً إِدّاً. تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدّاً. أَن دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَداً. وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَداً. إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً. لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا
Dan mereka berkata: "Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak". Sesungguhnya kamu Telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, Hampir-hampir langit pecah Karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka menda'wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah Telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. [QS.Maryam: 88-94]
Dari Abi Musa Al-Asya’ri رضي الله عنه bahwa Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: Tidak ada seorangpun yang lebih bersabar mendengar celaan selain Allah, mereka mengatkan bahwa Dia memiliki anak kemudian Dia memaafkan mereka dan memberikan rizki bagi mereka”.[5]
Dari Abi Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: Allah سبحانه و تعالي berfirman: Anak Adam telah mendustakanku dan tidak sepantasnya dia melakukan hal tersebut. Dia mencelaku padahal dia tidak pantas terhadap hal tersebut.  Adapun pendustaannya terhadapku adalah dia berkata: Allah tidak akan mengembalikanku sebagaimana dia memulai penciptaanku, padahal tidaklah awal penciptaan tersebut lebih mudah daripada mengembalikannya. Adapun celaannya terhadapku adalah dia mengatakan Allah memiliki anak, padahal Aku adalah Zat Yang Esa dan segala sesuatu bergantung kepadaKu, Aku tidak pernah melahirkan dan dilahirkan dan tidak ada seorangpun yang setara denganKu”.[6]
          Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari surat di atas adalah:
Petama: Menetapkan keesaan Allah سبحانه و تعالي dan bantahan terhadap orang-orang Yahudi dan Nashrani yang menjadikan bagi Allah anak. Allah سبحانه و تعالي berfirman:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللّهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera Allah". Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?. QS. Al-Taubah: 30
Kedua: Surat ini mengandung nama Allah yang agung, yang jika seseorang dengannya niscaya dia akan dipekenankan  dan apabila dia berdo’a maka do’anya akan dikabulkan.
Dari Abdillah bin Buraidah dari Bapakanya رضي الله عنه bahwa Nabi صلي الله عليه وسلم mendengar seorang lelaki berdo’a:
اَللَّهُمَّ إِنـِّي أَسْأَلُكَ أِنـِّي أَشْهَدُ أنك أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ اللَّهُ الصَّمَدُ  لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ  وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ  
(Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu, karena sesungguhnya aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dirimu Yang Maha Esa, Yang bergantung kepada Dirimu segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara denganNya).
Maka Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda setelah mendengar munajat orang tersebut: Sungguh engkau telah memohon kepada Allah dengan namaNya yang apabila engkau bertanya dengannya niscaya Dia akan memperkenankan permohonanmu dan jika engkau berdo’a dengannya maka Dia pasti menerima do’amu”.[7]
Ketiga: Disunnahkan untuk dibaca ketika hendak tidaur malam, sebgaimana yang dijelaskan di dalam keseharian prilaku Rasulullah صلي الله عليه وسلم, dan dianjurkan juga membacanya baik pada waktu pagi dan petang sejumlah tiga kali.
Dari Abdullah bin Hubaib رضي الله عنه berkata: Kami keluar pada malam yang gelap lagi hujan lebat untuk mencari Rasulullah صلي الله عليه وسلم agar beliau berkenan bersama kami lalu kamipun mendapatkan beliau صلي الله عليه وسلم: maka beliau bersabda: Apakah kalia telah mendirikan shalat”. Namun aku tidak menjawab apapun. Maka Nabi صلي الله عليه وسلم berkata kepada kami: katakanlah!. Namun aku tidak mengatakan sesuatu apapun. Kemudian beliau kembali berkata: Kataklah!, Namun aku tidak menjawab sesuatu apapun. Kemudian beliau kembali berkata: Kataklah!, lalu aku bertanya: Apakah yang semestinya aku katakana?. Beliau bersabda: Katakanlah:
(قل هو  الله أحد) dan Al-Mu’awwidzataini (al-falaq dan an-nas) pada saat pagi dan petang tiga kali maka dia menjagamu dari segala sesuatu”.
          Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh para sahabatnya.

Terjemah: Muzaffar Sahidu
IslamHouse.com
1430-2009


[1] Shahih Bukhari: 4/379 no: 7375
[2] Shahih Bukhari: 1/252 no: 774
[3] Shahih Bukhari: 3/344 no: 5015 dan diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Darda’: 1/556 no: 811
[4] Tafsir Ibnu Katsir: halaman: 4/570
[5] Shahih Bukhari: 4/379 no: 7378
[6] Shahih Bukhari: 3/334 no: 4974
[7] Sunan Abu Dawud: 2/79 no: 1493

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar